No comments yet

Peduli Gereja Bethany: Beri Bantuan dan Layanan Kesehatan di Daerah Bencana

KALEIDOSKOP, BETHANY.OR.ID-Malam itu, 16 November 2010, nampak kesibukan pada pukul 23.00 WIB di Gereja Bethany Nginden Surabaya. Sekitar 80 orang bergotong royong memuat barang maupun bahan pangan untuk membantu meringankan beban korban bencana meletusnya gunung Merapi di D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah. Mereka adalah Tim Holistik Gereja Bethany, termasuk 4 dokter dan 2 apoteker serta para relawan yang bertugas sebagai perawat, yang akan bertugas untuk  memberi layanan kesehatan secara gratis.

Rombongan besar terdiri 2 truk besar, 1 truk kecil, 1 bus dan 10 mobil pribadi yang mengangkut para diaken, anggota Family Altar dan anggota panitia  itu bertolak ke Jawa Tengah.  Di bawah pimpinan Pdt. Sujarwo dan Pdt. Bambang Yudho, rombongan itu  tiba pada Rabu 17 November  pukul 5.30 WIB.  Langsung  disambut oleh para gembala gereja Pasarlegi Solo,  Pdt. Freddy Riva yang didampingi para gembala gereja Bethany Salatiga, Pdt. Bambang Hengky dan Bethany Yogyakarta, Pdt. Effendy Herlambang. Para gembala itu didampingi oleh Tim Relawan dan Tim Kesehatan Bethany yang dipecah-pecah.

Menurut laporan Pdm. Tatang Sukarna dari Daiken Yogyakarta,  bantuan logistik bagi para keluarga pengungsi korban letusan gunung Merapi itu disebar pada berbagai pos-komando (posko) pengungsian di kabupaten-kabuputen Boyolali, Klaten, Sleman (DIY) dan Magelang.  Bantuan yang berupa  sembako, susu, kuwe, lauk, tikar, kasur, mie instan, dan lain-lain dengan diangkut  2 truk regular dan 1 box pickup.

Sebelum mendistribusikan dan melakukan pelayanan kesehatan, Tim Relawan Bethany mengadakan rapat  koordinasi di Gereja Bethany Solo dengan  Tim Relawan dari Bethany Solo, Yogyakarta, Salatiga, dan Magelang. Dalam rapat itulah dibahas tentang pembagian logistik ke titik-titik posko pengungsian yang membutuhkan logistk  dan yang perlu pelayanan kesehatan.

Diputuskan, bahwa distribusi bantuan itu  dibagi menjadi empat wilayah dan dengan para koordinator pelaksananya.   Untuk  wilayah Yogyakarta dipimpin Pdm. Effendi Herlambang yang membagi  barang bantuan yang diangkut satu truk untuk tiga lokasi, yaitu Posko STIE YKPN Seturan Sleman DIY, Posko Gereja Katolik Gereja Keluarga Kudus di  Jl. Kaliurang Km 7,5 Banteng, Sleman DIY,  Posko Ds. Dukun, Kec. Dukun, kabupaten Magelang (Jawa Tengah). Sedangkan untuk wilayah kabupaten Klaten dipimpin oleh Pdt. Yosi Riva (putera dari Pdt. Freddy Riva) yang meliputi wilayah Kec. Kemalang  dan satu titik posko di Boyolali. Bagi wilayah kabupaten Boyolali bagian utara, dipimpin Pdt. Sujarwo didampingi  Pdt. Bambang Hengky, dan untuk kabupaten  Magelang bagian utara, dipercayakan kepada  Gembala Jemaat Gereja Bethany Magelang, Pdt. Bambang.

 

Derita Pengungsi.

Gunung Merapi sebagai gunung berapi paling aktif di Indonesia, pada Selasa 26 Oktober 2010  tiba-tiba meletus secara berturut-turut pertengahan November 2010. Kilas balik bencana alam itu perlu kita ingat kembali, untuk mengetahui sebesar apa akibatnya. Awan panas dari lava yang berasal dari kawahnya bergulung-gulung (disebut oleh penduduk sekitar Merapi sebagai “wedus gembel”, atau “kambing berbulu gimbal”; atau domba berbulu lebat), meluncur ke arah barat dan selatan, yakni kabupaten Magelang dan kabupaten Sleman. Di daerah Sleman. Korban-korban yang tewas terbakar pertama-tama ditemukan di pedesaan dekat puncak di kabupaten Sleman, seperti Kinahrejo, Kepuharjo, Umbulharjo, Cangkringan dan lain-lain. Dimulai dari 15 orang tewas. Disusul temuan-temuan korban lainnya, 32 orang (termasuk “juru kunci Merapi”, Mbah Maridjan), yang kemudiannya membengkak di DI Yogyakarta 171 orang, provinsi Jawa Tengah (Muntilan, Magelang, Boyolali) 34 orang dan meningkat lagi yang kesemuanya menewaskan lebih dari 240 jiwa. Ratusan lagi yang luka-luka, dan puluhan ribu orang kehilangan harta benda serta mata pencaharian mereka.

Sekitra 37 ribu penduduk sekitar gunung Merapi harus mengungsi  ke berbagai tempat di sekeliling lereng Merapi, yakni kabupaten Sleman (DI Yogyakarta), kabupaten  Muntilan dan kabupaten Magelang serta kabupaten Klaten dan kabupaten Boyolali (Jawa Tengah). Meskipun jumlah korban “sedikit” berkat kesigapan berbagai instansi pemerintahan, seperti BMKG dan pemerintahan daerah, disusul pemerintah pusat, akan tetapi puluhan ribu menderita menjadi pengungsi. Mereka rata-rata kehilangan rumah dan harta benda lainnya, serta hancur atau rusaknya sumber penghidupan yang berupa pertanian dan peternakan.

Untuk ikut peduli terhadap penderitaan para pengungsi bencana tersebut, para jemaat Gereja Bethany pada ibadah persembahan khusus untuk penderita bencana dalam ibadah (Firman Allah Sekota) pada Kamis 4 November dan 7 November,  berupa beras, mi instan, susu untuk anak-anak maupun alas untuk tidur. Pengiriman bantuan yang pertama dilakukan pada  7 November malam ke kabupaten Klaten dan kabupaten Boyolali.

Reporter Tabloid  mengikuti  gelombang kedua pada 16 November, menuju desa Paras kecamatan Cepogo, Muntilan, yang selain menyerahkan bantuan juga memberikan layanan pengobatan kepada masyarakat.

 

Disambut Hangat.

Rombongan menuju Boyolali itu pertama-tama menuju kantor Palang Merah Indonesia setempat, kemudian berkordinasi dan menuju desa Paras, kira-kira 20 km sebelah tenggara puncak Merapi. Posko untuk pelayanan di Posko Pelayanan Logistik di seberang kantor desa.
Dilayani oleh 4 dokter, 2 apoteker dan beberapa relawan selaku perawat, pengobatan gratis dari  tim holistik Gereja Bethany itu mendapat sambutan hangat dari sekitar 210  warga di desa Paras. Usai pelayanan di tempat itu, tim kemudian panda ke desa tetangganya, yakni desa Jelak. Di tempat itu 115 warga pengungsi dilayani.  Pada kedua desa tersebut, pasiennya rata-rata terdiri dari wanita dan orang lanjut usia. Meskipun terdapat jugaanak-anak.

Penyakit yang diderita mereka terbanyak adalah infeksi mata, sesak nafas, dan sebagian menderita tekanan darah tinggi.
Andre, petani yang berasal dari desa Jombong, Cepogo, Boyolali, mengeluh sesak nafas dan kurang nafsu makan. Menurutnya, tidak kalah pentingnya adalah penanganan kondisi psikologis. Katanya kepada Tabloid,  karena dia sendiri mengalami ketakutan akibat suara gemuruh yang ditimbulkan dari dalam perut gunung Merapi.  Dikatakannya, meskipun selama mengungsi di desa Paras  tidak kekurangan makanan, namun menginginkan kehidupannya kembali seperti semula, di mana dia dan keluarganya tidak hidup dari bantuan orang lain semata, melainkan dari hasil sawahnya sendiri.  Sementara itu, salah seorang warga bernama Sumi yang waktu itu mendatangi posko kesehatan Bethany dengan keluhan tulangnya terasa sakit,  berterima kasih atas pengobatan gratis itu..

Menurut Darsono, Kepala Desa Paras,  di desanya terdapat sekitar 500-700 pengungsi yang berasal dari desa-desa Cepogo, Genting, Jombong, Sukabumi dan Wonodoyo. Meskipun kebutuhan logistik cukup terpenuhi, namun yang juga perlu dipikirkan ke depannya adalah masalah perekonomian kehidupan dan pengadaan pakan untuk ternak mereka.

Dalam melanjutkan pelayanan kesehatan menuju desa Jelok, Cepogo, Boyolali, di sepanjang perjalanan dapat terlihat sisa terpaan abu vulkanik di kanan-kiri. Di desa tersebut, tim melayani 115 orang pasien. Terbanyak mereka mengeluh merasa pusing, pilek, batuk dan  sakit tenggorokan.

Begitulah Tim Holistik Bethany menyelesaikan tugas sehari penuh. Usai pelayanan kesehatan, mereka meninggalkan desa Paras dan Jelok pada sekitar pukul empat petang hari, dan kembali ke Surabaya. (sumber: tab.bethany.184/sus/as/wic)

Post a comment