Comments are off for this post

ORANG-ORANG MULIA

“Tetapi orang yang berbudi luhur merancang hal-hal yang luhur, dan ia selalu bertindak demikian” (Yesaya 32:8).

Menurut bahasa Ibrani, nadiyb diterjemahkan dengan “orang yang berbudi luhur”. Kalau Anda melihat definisi dalam kamus Strong’s, kata ini diaplikasikan dalam banyak  arti. Kata ini dapat berarti luhur, bebas, kerelaan, dan pangeran. Renungan hari ini menyoroti kata ini dalam kaitannya dengan arti orang yang berbudi luhur atau orang yang memiliki kedudukan yang tinggi dan agung.
Beberapa referensi ayat di PL menyebutkan bahwa orang yang berbudi luhur adalah orang yang terpandang di hadapan Allah. Mereka disebut juga dengan umat Allah, seperti pada ayat: “Para PEMUKA BANGSA-BANGSA [nadiyb] berkumpul sebagai umat Allah Abraham. Sebab Allah yang empunya perisai-perisai bumi; Ia sangat dimuliakan” (Mzm. 47:10). Anda lihat, nadiyb juga disebutkan dengan umat Allah Abraham.
Ada beberapa karakter yang menjadi ciri seorang yang disebut nadiyb:
Pertama, menurut pembacaan ayat hari ini, nadiyb adalah orang-orang yang merancangkan hal-hal yang luhur dan mulia. Tidak ada kecurangan dalam hatinya. Ia tidak berpikir untuk merancangkan kecelakaan bagi sahabatnya. Ia juga tidak merancangkan untuk menilep uang perusahaan. Apa saja yang dikandung dalam hatinya adalah hal-hal yang mulia dan luhur.
Kedua, Alkitab berkata, “Orang bebal tidak layak mengucapkan kata-kata yang bagus, apalagi ORANG MULIA [nadiyb] mengucapkan kata-kata dusta” (Ams. 17:7). Nadiyb adalah seseorang yang tidak berbicara dusta, tidak menipu, tidak mengelabui, dan tidak berbuat curang dengan perkataan. Ia adalah seseorang yang janjinya dapat dipegang.
Coba Anda pikirkan. Tidakkah Anda lihat bahwa ciri-ciri ini harus menjadi ciri orang percaya, karena di mata Allah kita adalah orang-orang yang mulia? Kita telah diangkat dari jurang kotoran dosa. Kita dibersihkan, diberi baju indah, dan didudukkan bersama-sama dengan Kristus di surga (Ef. 2:6). Kita memiliki kedudukan yang istimewa sebagai anak-anak terang dan juga sebagai imam-imam (Why. 1:6).
Sayangnya, banyak orang percaya tidak mencirikan sebagai orang yang mulia. Tingkah laku mereka sama sekali tidak mencerminkan sebagai anak-anak Raja. Lihat saja, perbuatan-perbuatan yang tidak patut dilakukan oleh anak-anak Raja, mereka lakukan. Kira-kira kalau ada seorang pangeran dengan baju kebesaran terus main-main di kubangan lumpur, apakah patut dilakukannya? Hanya “pangeran babi” yang melakukannya, seperti Alkitab katakan, “…… babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya” (2 Pet. 2:22).[rhb]

 

Manusia tidak dinilai dari jabatan, tetapi dari perbuatan.