No comments yet

Atasi Perselisihan

“Hal itu menimbulkan perselisihan yang tajam, sehingga mereka berpisah dan Barnabas membawa Markus juga sertanya berlayar ke Siprus” (Kisah 15:39).

Tidakkah akan begitu indahnya kalau orang percaya saling mengasihi dan tinggal dalam perdamaian? Bukankah kita sebenarnya memiliki kesamaan: satu Tuhan, satu firman, satu Tubuh di mana kita semua adalah anggota, satu keinginan untuk memuliakan Yesus Kristus, dan satu tujuan untuk menceritakan kabar baik yang telah Tuhan kerjakan bagi kita? Namun kenyataannya kita bertikai di dalam tubuh dan saling menyakiti.

Dulu pun gereja Tuhan tidak lepas dari masalah ini. Dua orang hebat di gereja mula-mula, yakni Barnabas dan Paulus juga berselisih pendapat, bahkan Alkitab berkata bahwa perselisihan itu begitu tajam! Kata Yunani yang diterjemahkan “perselisihan tajam” merupakan dasar bagi kata Inggris paroxysm, berarti, “ledakan emosi secara tiba-tiba.” Ini bukan sekedar suatu perbedaan pendapat. Ini perdebatan serius, tajam, dan emosi tersembur keluar. Kata-kata tajam saling dikeluarkan. Mungkin tuduhan yang tidak baik saling dilontarkan. Kata-kata berisi kejengkelan dan kemarahan.

Pertengkaran seperti ini sering muncul di antara orang Kristen, suami dan istri, orangtua dan anak-anak, alasan dan bawahan, rekan sekantor, tetangga, dan bahkan antar pemimpin gereja. Hasilnya? Persahabatan hancur, keluarga terpecah, dan gereja terbagi-bagi.

Bagaimana kita menyikapi sebuah perselisihan?
Pertama, sadarilah bahwa Tuhan menciptakan masing-masing kita itu dengan keunikan tersendiri. Artinya perbedaan paham dan pendapat itu adalah hal yang biasa. Kita memiliki perbedaan latar belakang dan pola berpikir yang berbeda. Jika Tuhan bisa menerima kita semua dengan seluruh perbedaan kita, berarti kita harus juga belajar untuk menerima satu sama lain.

Kedua, belajar mengakui perasaan kita dan membahasnya. “Saya merasa sakit hati saat kamu melakukan itu. Tapi saya ingin semuanya berjalan benar di antara kita. Bisakah kita membahasnya?” “Saya merasa direndahkan saat kamu mengatakan hal itu. Maukah kamu menjelaskan maksudnya?” Saat kita menolak untuk bicara, dan sebaliknya, membiarkan perasaan itu mendidih, ledakan pasti akan datang. Jangan biarkan itu. Bicara! Secara terbuka dan jujur bicara! Bukan tentang kesalahan orang lain, tapi tentang apa yang kamu rasakan.

Ketiga, cepatlah mengampuni. Ini adalah obat yang paling mujarab untuk segala masalah pertikaian. Bukankah Yesus telah menekankan hal ini berkaki-kali? (hi/rhb)

Perselihan dapat terjadi, tetapi janganlah terjadi perpecahan.

 

Post a comment