Comments are off for this post

BAWA PENYESALANMU!

“Pada waktu itu Tuhan, TUHAN semesta alam menyuruh orang menangis dan meratap dengan menggundul kepala dan melilitkan kain kabung” (Yesaya 22:12).

Dr. James Orr pernah menceritakan pengalaman Billy Graham ketika ia berada di pesawat terbang. Beberapa penumpang berbisik-bisik membicarakan hamba Tuhan ini. Pada waktu yang sama, seorang dengan perawakan besar, kelihatannya dari negara bagian Texas, berbicara ke sana kemari sambil melantur. Rupanya ia kebanyakan minum bir. Ia mulai mengumpat, mengeluarkan kata-kata jorok, dan mengutuki sana-sini. Akhirnya seorang penumpang berusaha menenangkannya, “Pak, bisakah Bapak diam? Sebab di sini ada penginjil Billy Graham.”
Orang dari Texas itu berkata, “Billy Graham, Billy Graham terbang bersama kita?”
Orang ini segera mencari Billy Graham, lalu berkata kepadanya, “Bapak Billy Graham, saya senang berjumpa dengan Anda. Saya hanya memberitahu Anda kalau khotbah-khotbah Anda telah membantu saya untuk menjadi orang Kristen yang baik.”

Kisah tersebut  cukup  menggelikan. Karena pertobatannya tak sesuai dengan perbuatannya. Sebab pertobatan sejati menuntut penyesalan yang dalam dan tidak ada keinginan untuk melakukannya lagi. Tidak seperti pemabuk itu!
Bukankah pertobatan sejati yang diinginkan Tuhan kepada penduduk Yerusalem? Bukankah Allah menyuruh mereka menangis, meratap dengan menggundul kepala, serta melilitkan kain kabung, sebagai tanda pertobatan mereka? Penyesalan seperti itulah yang Allah mau. Tetapi sayang, mereka bukannya berkabung, tetapi malahan bergirang dan bersukacita di dalam dosa. Penduduk Yerusalem menjadi apatis dan acuh terhadap perintah Tuhan. Sebab mereka punya prinsip: selama masih hidup, makan dan minumlah sampai teler.

Gaya hidup hedonis seperti itu juga dijalani beberapa orang Kristen. Mereka beribadah hanya untuk mencari kepuasan pribadi, datang ke gereja, memberi persembahan, lalu menunggu untuk menuai benih yang telah ditaburnya itu. Manakala tuaian itu tak kunjung tiba, dengan mudah mereka ngambek! Buat apa ke gereja? Buat apa hadir di kebaktian? Mereka pikir, gereja sama dengan bank yang dapat memberikan uang mereka kembali beserta dengan bunganya yang melimpah-limpah. Kalau kita berpikir seperti itu, Anda pasti tidak akan tahan menghadapi penampian Allah. Dengan mudah kita Anda akan diterbangkan angin, karena Anda adalah sekam.
Periksalah, ketika bertobat, apakah Anda melakukannya dengan sungguh-sungguh atau hanya air mata penyesalan?  [rhb]

 

Kata-kata pujian kepada Tuhan tidak ada artinya jika tidak didahului dengan pertobatan yang sungguh-sungguh.

Comments are closed.