Comments are off for this post

Berharga

“Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: Mengapakah engkau membentuk aku demikian?” (Roma 9:20)

Rubi, mirah, zamrud (emerald), safir (sapphire), topaz dan mata kucing (cat eye) adalah beberapa jenis batu permata yang termasuk kelas premium karena tingkat kekerasannya mendekati berlian. Tapi tahukah saudara tentang proses terbentuknya batu tersebut? Batu permata terbentuk dalam perut bumi dan prosesnya berlangsung selama ratusan bahkan ribuan tahun. Sebelum dipamerkan dan dibanggakan sebagai perhiasan yang indah di depan banyak orang, ia harus terlebih dahulu ditemukan, dibersihkan, diasah dan dibentuk sesuai dengan imajinasi pembuatnya.

Demikian juga hidup kita di tangan Tuhan. Kita ini adalah permata-permata indah yang siap di bentuk ditanganNya, sedangkan Tuhan adalah Sang Pengerajinnya. Seperti yang tertulis dalan Yesaya 55:8-9 “TUHAN berkata, “Pikiran-Ku bukan pikiranmu, dan jalan-Ku bukan jalanmu. Setinggi langit di atas bumi, setinggi itulah pikiran-Ku di atas pikiranmu, dan jalan-Ku di atas jalanmu.” Untuk menjadi permata yang indah, setiap batu permata harus mengalami proses pembentukan yang menyakitkan yaitu dipotong, dibentuk, diasah dan dihaluskan. Oleh karena itu kita harus merelakan diri dibentuk agar hal-hal yang tidak berkenan seperti pemikiran negatif, amarah, dan benci dapat diganti dengan pemikiran Kristus.

Sebagai Sang Pengerajin Ia sudah mengetahui dengan pasti apa yang menjadi kelebihan setiap pribadi, tapi seringkali kita yang kurang mempercayai rencanaNya. Sesungguhnya pemikiran Tuhan tak terbatas dan tak terselami oleh hati, sedangkan pemikiran manusia hanya memikirkan apa yang ada di depan mata saja, sehingga apa yang sesaat kita pandang baik belum tentu baik pada akhirnya. Namun bila pemikiran kita yang terbatas ini digabungakan dengan hikmat Tuhan yang luar biasa, maka akan menghasilkan sebuah kehidupan yang dahsyat dan  maksimal. [ssn]

 

Setiap pribadi adalah permata yang harus di asah.

Comments are closed.