Comments are off for this post

Tuhan Sumber Pengharapan

Aku telah bosan hidup, aku hendak melampiaskan keluhanku, aku hendak berbicara dalam kepahitan jiwaku” (Ayub 10:1).

SAMPAI  sejauh ini, Ayub tidak mengerti latar belakang semua penderitaan yang dialaminya. Yang ia tahu, semua harta bendanya ludes, anak-anaknya mati, isterinya meninggalkannya, dan badannya penuh dengan borok. Ia putus asa. Bahkan ia berkata telah bosan hidup.

Bosan hidup tidak hanya dialami oleh Ayub. Banyak orang yang mengalami penderitaan berkomentar yang sama. Mereka tidak ingin hidup lagi. Berbagai tekanan hidup membuat mereka tidak tahan lagi. Mereka tidak memiliki pengharapan. Mereka tidak mempunyai tujuan hidup. Sasaran hidup mereka tidak jelas.
Bukankah tidak demikian dengan orang percaya? Bukankah kita mempunyai banyak pengharapan di dalam Tuhan? Kita harus mengubah pola berpikir kita yang lama. Kalau selama ini penderitaan adalah sesuatu yang sangat menakutkan, kini ubahlah pandangan kita. Anggaplah penderitaan sebagai jalan untuk menjadi semakin dewasa di dalam Tuhan.

Pada suatu hari Mozart (komponis dunia) dan kawannya, seorang pemburu, berjalan bersama-sama di hutan. Tiba-tiba berhembuslah angis sepoi-sepoi. Kata pemburu: “Angin ini dapat mengagetkan kelinci.” Tapi Mozart, pemusik, berkata: “Betapa indahnya suara organ dari Allah Yang Mahakuasa.”
Kemudian muncullah seekor burung mencicit dengan lengkingan tinggi di udara. Pemburu itu berkata: “Hm, sasaran tembak yang bagus!” Tapi Mozart berkata: “Apa saja akan kuberikan asal aku dapat memiliki suara yang indah itu.”

Apakah yang menjadi perbedaan di antara keduanya? Satu orang mempunyai melodi dalam hatinya bagi Allah – mengagumi karya-Nya. Satunya lagi tuli bagi melodi Allah.
Apakah kita mempunyai melodi Allah? Mempunyai hati yang selalu mengucap syukur? Bedakan diri kita dengan orang fasik saat kita bersama-sama menghadapi penderitaan. Di sinilah terlihat perbedaan antara orang benar dengan orang fasik. Dengan melihat hati, Allah tahu mana anak-anak-Nya yang menaruh pengharapan dan iman mereka kepada-Nya.

Paulus adalah orang yang banyak mengalami penderitaan. Mengapa ia begitu tabah? Paulus berkata: “Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah SUMBER SEGALA PENGHIBURAN, yang MENGHIBUR kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami SANGGUP menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah” (2 Korintus 1:3, 4). Allah adalah penghiburannya! Karena itulah, meskipun ia sendiri dalam penderitaan, tapi ia sanggup menghibur orang-orang yang mengalami penderitaan.

Yeremia berkata: “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu……untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” (Yeremia 29:11). Hari depan kita cerah bersama Tuhan, karena Tuhan sendiri yang berjanji. Penderitaan yang kita alamai tidak akan mampu menggagalkan rencana Allah ini. Bersukacitalah dalam pengharapan (Rm. 12:15)! [rhb]

 

Karena persoalan dan tantangan yang berat, banyak orang alami depresi,  namun Tuhan memberikan pengharapan yang pasti, didalam Dia selalu ada jalan keluar.