Comments are off for this post

BUKAN BATU SANDUNGAN

“Karena darah itulah nyawa segala makhluk. Sebab itu Aku telah   berfirman kepada orang Israel: Darah makhluk apapun janganlah   kamu makan, karena darah itulah nyawa segala makhluk: setiap orang yang memakannya haruslah dilenyapkan”  (Imamat 17:14).

Ada  alasan kuat, mengapa Tuhan saat itu melarang umat-Nya memakan darah binatang.  Alasan itu antara lain: “Karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya” dan Tuhan telah  memberikan darah itu kepada umat Allah saat di atas mezbah untuk mengadakan pendamaian bagi nyawa mereka, karena darah mengadakan pendamaian  dengan perantaraan nyawa” (Im. 17:11).  Berikutnya penumpahan darah selalu berkaitan dengan korban persembahan. Jadi orang makan darah dapat dikatakan melanggar ketetapan Allah tentang korban dan hal ini dianggap kekejian oleh Allah. Karenanya dengan tegas di dalam ayat 14 Allah berkata bahwa setiap orang yang melanggarnya akan dihukum yaitu dilenyapkan di antara bangsa itu.

Di dalam Perjanjian Baru hal ini juga disinggung saat diadakan sidang para Rasul di Yerusalem. Yang mana saat itu Rasul Yakobus  tampil dan berbicara: “Sebab itu aku berpendapat, bahwa kita tidak boleh menimbulkan  kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah, tetapi kita harus menulis surat kepada mereka, supaya mereka  menjauhkan diri dari makanan yang telah dicemarkan  berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah. Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya  kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban dari pada yang perlu ini: kamu harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati  dicekik dan dari percabulan. Jikalau kamu memelihara diri dari hal-hal ini, kamu berbuat baik” (Kis.15:19,20,28,29).

Kalau perihal makan “darah” di dalam PL dilarang keras karena berkaitan dengan upacara di kemah suci, maka di dalam Perjanjian Baru hal ini diajurkan tidak dilakukan supaya kita tidak menjadi batu sandungan bagi orang  yang merasa syak.  Allah mau hidup kita menjadi berkat, bukan menjadi batu sandungan bagi orang lain.
Bukan hanya masalah makan darah, masalah makan daging pun tentang yang haram dan yang halal Rasul Paulus juga menyinggung: “Karena itu apabila makanan menjadi batu sandungan bagi  saudaraku, aku untuk selama-lamanya tidak akan mau makan daging lagi, supaya aku jangan menjadi batu sandungan bagi saudaraku” (1Kor. 8:13) .

Prinsip Rasul Paulus lebih baik tidak makan daging dari pada menjadi batu sandungan bagi orang lain.
FirmanNya meneguhkan, “Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu  sandungan bagi mereka yang lemah (1 Kor. 8:9). Kita adalah pembawa berita baik, jangan menjadi batu sandungan.[aw/16]