No comments yet

Tuhan Punya Cara Sendiri

“Tetapi Yosabat, anak perempuan raja, mengambil Yoas bin Ahazia, menculik dia dari tengah-tengah anak raja yang hendak di bunuh itu, memasukkan dia dengan inang penyusunya ke dalam gudang tempat tidur…..” (2 Taw. 22:11).

MASA  kecil raja Yoas tidaklah menyenangkan. Raja ini menghadapi ancaman pembunuhan yang dilakukan oleh neneknya sendiri, Atalya. Ia berhasil lolos, sebab Yoseba menyembunyikannya ke dalam rumah Tuhan selama enam tahun tanpa diketahui oleh Atalya (2 Raj. 11:3).

Peristiwa terancamnya nyawa saat kecil juga pernah menimpa Musa dan Tuhan Yesus sendiri. Saat Musa berusia tiga bulan, ia diselamatkan dari ancaman pembunuhan oleh raja Firaun dengan cara dihanyutkan ke sungai. Sedangkan Tuhan Yesus, Ia dilarikan ke Mesir oleh orang tuanya karena saat itu Herodes memaklumatkan untuk membunuh semua bayi berusia dua tahun ke bawah di Betlehem dan sekitarnya.

Kadangkala timbul pertanyaan menggelititik tentang cara Allah menyelamatkan umat-Nya. Mengapa Allah tidak mengirimkan saja sepasukan malaikat untuk melindungi umat-Nya? Bukankah Atalya, Firaun, maupun Herodes tidak akan dapat berbuat apa-apa bila harus berhadapan dengan malaikat Allah? Yesus pernah melontarkan jawaban yang menarik saat ia menghadapi situasi yang sama. Ketika Dia ditangkap, ketika itu dengan marah Petrus menghunuskan pedangnya dan memotong  telinga salah seorang hamba Imam Besar. Saat itulah Yesus berkata, “Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada BapaKu, supaya Ia segera mengirimkan lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku? Jika begitu, bagaimanakah akan DIGENAPI yang tertulis di Kitab Suci, yang mengatakan, bahwa harus terjadi demikian?” (Mat. 26:53, 54). Bukannya Yesus tidak sanggup memanggil bala bantuan, tetapi segala sesuatu harus tergenapi, sesuai dengan yang tertulis di Kitab Suci.

Ketika peristiwa maraknya pengrusakan gereja-gereja sebelum krisis moneter terjadi, ada peristiwa tragis yang terjadi di pulau Jawa bagian timur, ketika sekeluarga pendeta meninggal dunia karena gedung gerejanya dibakar. Ironisnya, kita juga mendengarkan kesaksian beberapa anak Tuhan yang lolos dari maut karena campur tangan Allah. Bagaimana ini? Apakah Allah tidak campur tangan terhadap sekeluarga pendeta itu? Dengarkan ini! Baik keluarga pendeta yang mati maupun yang telah merasakan campur tangan Allah, ke dua-duanya menggenapi firman Tuhan. Menurut Alkitab haruslah ada martir sebagaimana yang dialami oleh Stefanus, sang martir pertama.

Jangan salah mengerti! Memang Allah berjanji melindungi umat-Nya (baca lagi renungan bulan ini tanggal 18), tetapi Allah tidak berjanji melepaskan kita dari aniaya oleh karena Kristus. Justru Alkitab berkata: “Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita ANIAYA” (2 Tim. 3:12). Tapi jangan takut, sebab bila kita dianiaya oleh karena kebenaran, roh kemuliaan ada pada kita (1 Pet. 4:14). Catat ini baik-baik! Puncak kerohanian Stefanus justru terjadi pada saat ia dianiaya – dirajam sampai mati. Ia melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di debelah kanan Allah – klimaks kerohaniaanya sebelum ia dijemput malaikat ke sorga (Kis. 7:55, 56).[rhb]

Jangan mencoba mereka-reka bagaimana cara Allah menolong umat-Nya, sebab justru yang tidak kita duga itulah yang Ia lakukan.

 

Post a comment