Comments are off for this post

Don Moen: “I Believe There is More”- Konser dan Lokakarya Music Gerejani di Bethany Nginden

KALEIDOSKOP, BETHANY.OR.ID – Nama Don Moen selaku pencipta sekaligus pelantun di belantika lagu-lagu Kristiani di dunia internasional menyedot lebih dari tujuh ribu peminatnya di Gereja Bethany Indonesia – Nginden, Surabaya, pada 16 dan 17 September 2012.

Atas undangan Gereja Bethany Nginden Surabaya, Don Moen dan isteri, Laura Moen, beserta seluruh crew musiknya yang tiba di Bandara Juanda dari Jakarta pada 16 September disambut berbagai acara dengan lokasi berpindah-pindah. Usai makan siang di Sheraton Hotel, lalu ke tempat menginapnya di JW Marriot Hotel untuk berganti pakaian, kemudian menuju Mall Golden City guna jumpa fans, dan dilanjutkan siaran talk-show di B-radio FM 92.9 Mhz, barulah dia bersama isteri kembali ke hotel.

Petang itu, pukul 17.30 dia bersama isteri tiba di Main Hall Gereja Bethany Indonesia Nginden, melakukan checking persiapan konsernya yang akan diawali pukul 19.00 WIB. Dari pengaturan waktu dan ketelitian persiapannya, menunjukkan seniman lagu-lagu rohani dari Amerika Serikat itu itu benar-benar profesional.

Konser Yang Memukau.
Satu jam sebelum konser dimulai, seluruh tempat duduk di Main Hall Gereja Bethany itu berangsur-angsur sudah dipenuhi jemaat. Don telah memilih untuk menyanyikan lagu-lagu yang tidak asing lagi bagi jemaat yang juga penggemarnya, ditambah beberapa lagu dari album lama serta dari album terakhirnya berjudul “I believe there is More”.

Tentang narasi lagu-lagu di albumnya itu, pada saat talk show di B-radio siang harinya, Don Moen mengatakan, bahwa narasi dari tema tersebut memiliki makna yang sangat dalam. Ungkapan dari  gambaran tentang seseorang yang pernah mengalami kebaikan, lalu tiba-tiba saat dia sedang mengalami suatu permasalahan, imannya menjadi sedikit terguncang. Akan tetapi dia kemudian tersadar, bahwa dahulu Tuhan Yesus pernah menolongnya, maka sekarangpun dia percaya, bahwa Tuhan Yesus pasti menolongnya kembali. Bahkan dia percaya, pertolonganNya akan berlebih dari yang dahulu  diterimanya, sehingga dia tetap percaya akan menerima lebih dari apa dia pikirkan dan doakan. Yakni, menantikan pertolongan dari Tuhan Yesus dengan tetap menengadahkan kedua tangan dan mengingat betapa baiknya Dia yang telah mencurahkan kasihNya yang tak terbatas dan yang kesemuanya membawa kepada kebahagian yang tiada berakhir.

Sebagai titik puncak dalam konser malam itu, adalah saat Don Moen membawakan lagu   “I believe there is More.” Jemaat merasakan hadirat Roh Kudus.  Begitulah hadirin larut dalam lagu-lagu yang dibawakannya malam itu. Meskipun konser itu berakhir pada pukul 21.15 WIB, dikarenakan sangat memukau mereka, banyak dari para jemaat yang hadir pada malam itu enggan untuk bergerak meninggalkan Main Hall Gereja Bethany Nginden.

Lokakarya Yang Memuaskan.
Pada keesokan harinya, 17 September,  dalam acara yang dinamai “Lokakarya” (Loka Karya) yang  dimulai pukul 09.00 WIB, Don Moen beserta Timnya selama dua jam memberi arahan bagaimana harus menjadi penyembah yang benar. Mereka harus merasakan perlunya ditemukan kekompakan dan merasa saling lebih dekat antara satu dengan lainnya.

Sebagai gambaran dicontohkan permainan yang  ditunjukkan oleh Don dan Timnya, di mana permainan musik itu tidak akan sempurna, apabila satu sama lain para pemain musik tersebut memikirkan kepentingan masing-masing. Dengan demikian tidak terdapat kekompakan dan kerja sama yang baik, sehingga akan menimbulkan suara-suara yang tidak baik. Hal demikian jelas sekali, bahwa kadang kala antar pemain musik itu ingin menonjolkan diri agar mendapatkan pujian, sehingga menjadikanlah tujuan tersebut tidak benar.

Kemudian Don memberikan dasar-dasar permainan music persembahan itu, lalu memasuki pelaksanaan lokakarya dengan membagi kelompok-kelompok. Dibuatnya dalam 5 kelompok peserta lokakarya, antara lain untuk: Vocal, yang dibimbing oleh Rachel Robinson dan Tome Lane Kelompok Gitar, oleh Justin Ostrander, kelompok Electric Bass oleh Chris Kent, dan kelompok Keyboard dan Keyboard Technology oleh Boh Cooper, kelompok Drum oleh Mike Childers, dan tidak kalah pentingnya adalah kelompok Sound Enginering oleh Chuck Harris.

Kata Don Moen, pentingnya kedekatan dengan Sound Enginering, yakni bila yang lainnya boleh ditinggalkan, akan tetapi untuk urusan Sound tidak bisa dibuat main-main. Sambungnya, disebabkan Soundman sangat memegang peranan. Semua kontrol berasal dari Soundman. “Jika tidak baik-baik dengan soundman, semua bisa tidak karuan.” ujarnya.

Dalam sesi terakhir lokakarya, kembali Don Moen memberikan petunjuk bagaimana menjadi penulis lagu rohani yang baik dan benar-benar membuat orang lain menjadi terbawa oleh lagu yang  ditulisnya. Kesemuanya itu, menurutnya,  berdasarkan dari pengalaman pribadi masing-masing bersama Tuhan Yesus Kristus. “ Itu yang menjadi dasar dari apa yang harus kita tulis “ katanya.

Lokakarya yang diberikan langsung oleh sebuah tim dari Don Moen tersebut dinyatakan sebagai yang pertama kalinya diadakan di Surabaya. Beberapa orang pemain musik gereja menyatakan, bahwa mereka perlu mencontoh apa yang dilakukan oleh tim Don Moen. Beberapa orang dari mereka menyatakan puas dengan lokakarya semacam itu, sebab merupakan pengalaman baru bagi mereka. (sumber: tabloid bethany edisi 178/js/as/wic).