No comments yet

Dosa Tinggi Hati

“Dan pada suatu hari yang ditentukan, Herodes mengenakan pakaian kerajaan, lalu duduk di atas takhta dan berpidato kepada mereka” (Kisah 12:21).

Setiap orang ‘berpotensi’ menjadi sombong. Seorang pelari bisa saja  menyombongkan kecepatan larinya. Seorang konglomerat memamerkan mobilnya yang supermewah. Seorang pemimpin pujian bisa saja terpancing membanggakan suaranya yang merdu. Seorang Farisi yang sombong berkata, “Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku” (Luk. 18:11-12).

Mungkin saja orang Farisi di atas memang benar adalah orang baik, tetapi ia sombong. Jika dibandingkan dengan kesombongan, C.S. Lewis berkata dalam bukunya, ”Mere Christianity, “kesenonohan, kemarahan, kerakusan, mabuk-mabukan, hanyalah sekedar gigitan nyamuk.” Kesombongan adalah dipenuhinya hati dengan perasaan bahwa akulah yang terpenting. Singkatnya, kesombongan membentuk citra diri yang keliru.

William White juga berkata kalau kesombongan itu seperti kanker rohani yang menggerogoti persahabatan, cinta kasih dan komunitas. Dosa semacam inilah yang berkuasa di balik program pembasmian orang-orang Yahudi oleh Nazi, politik apartheid di Afrika Selatan, dan rasisme di mana-mana. Kesombongan menciptakan seseorang untuk merasa diri paling hebat dibandingkan orang lain. Ia merasa telah lebih dekat dengan langit tatkala berdiri di atas gedung yang tinggi, dibandingkan dengan orang lain yang berdiri di atas tanah.

Seorang yang sombong itu berlaku sangat tidak hormat kepada Tuhan, karena ia mencoba menjajarkan dirinya dengan Dia. Karena itu pula yang menjadi godaan Adam dan Hawa tatkala iblis berkata, “…pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah…” (Kej. 3:5).

Ketika Herodes memakai pakaian kerajaan dan duduk di atas takhtanya, kadar kesombongannya naik dengan drastis. Akibatnya? Ia ditampar malaikat dan mati dimakan cacing. [rhb]

Kesombongan itu semacam  kudeta untuk merebut takhta Allah.

 

Post a comment