Comments are off for this post

Perjanjian Garam

“…..TUHAN Allah Israel telah memberikan kuasa kerajaan atas Israel kepada Daud dan anak-anaknya untuk selama-lamanya dengan suatu perjanjian garam” (2 Tawarikh 13:5).

GARAM  memegang peranan penting dalam sistem peribadahan orang Israel. Sebab beberapa korban yang dipersembahkan kepada Tuhan harus dibubuhi garam, seperti korban sajian (Im. 2:13) dan korban bakaran (Yeh. 43:24). Ukupan – benda bakaran yang berbau harum – juga mengandung garam sebagai salah satu unsurnya (Kel. 30:35). Sebab itulah, setiap perjanjian yang disahkan antara Allah dengan umat-Nya – dengan memberikan korban yang dibubuhi garam – akan disebut juga dengan istilah perjanjian garam. Arti lebih luas lagi, perjanjian garam disebut juga dengan perjanjian kekal (Bil. 18:19).

Semua orang tahu betapa pentingnya garam. Hampir semua hidangan harus dibubuhi garam supaya nikmat. Bahkan, tubuh manusia mengandung garam cukup tinggi, terbukti bila kita menjilat keringat kita sendiri, maka akan terasa asin. Tidak kebetulan pula bila Allah perlu “menempatkan” laut mati – satu-satunya laut yang berkadar garam tertinggi (9 kali lebih bergaram dari laut biasa) – di tanah milik umat-Nya, sebagai suatu peringatan akan pentingnya garam. Tidak hanya itu saja, garam dikisahkan lebih bernilai dari emas bahkan sebutir berlian besar sekalipun, pada suatu cerita populer tentang 3 putri raja yang memberikan hadiah kepada sang raja, sebagai bukti cinta kepada ayah mereka.
Kisah nyata itu diawali dengan ujian yang dilakukan raja kepada ketiga putrinya, yaitu  untuk mengetahui seberapa besar cinta mereka. Sang raja menyuruh mereka memberikan hadiah yang terbaik kepadanya, sebagai bukti cinta.

Pada harinya, Putri Sulung memberikan sebongkah emas, yang disambut dengan senyum lebar sang raja. Putri Tengah memberikan sebutir berlian sebesar telur ayam, yang disambut dengan senyum puas sang ayah. Tetapi ketika tiba giliran Putri Bungsu, ia  dengan langkah mantap menghampiri ayahnya dan menyodorkan sebuah bungkusan rapi. Ketika bungkusan itu dibuka, tiba-tiba wajah sang raja berubah menjadi merah padam, sebab hadiah yang diberikan itu adalah garam! Dengan marah sang raja menjeblokan putri bungsunya ke penjara. Si kepala koki istana yang mengetahui peristiwa ini bersimpati kepada Putri Bungsu. Timbullah rencana dalam hatinya untuk membuktikan bahwa hadiah Putri Bungsu lebih berharga daripada putri-putri lainnya.

Suatu saat ketika sang raja sedang menyantap makan malamnya, tiba-tiba ia memuntahkannya, sebab makanan itu hambar. Semua hidangan ia cicipi dan tak ada satupun yang dapat ia makan sebab semuanya hambar. Dengan geram ia memanggil juru masak – si kepala koki istana –  dan menghardik, mengapa makanan-makanan itu tanpa garam. Dengan tenang si koki menjelaskan dan mengingatkan kembali tentang hadiah Putri Bungsu. Terbukalah matanya kini, ternyata hadiah Putri Bungsu paling bernilai! Apa artinya emas dan berlian bila selera makannya hilang sama sekali dan ia tidak dapat menyantap hidangannya?[rhb]

 

Tetaplah setia jadi garam dunia, disitulah letak ungkapan kasih kita kepada Tuhan dan rasa sayang kita kepada jiwa-jiwa yang dipercayakan untuk dijaga dan dilayani dengan baik,