No comments yet

Gema

“Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai” (Mazmur 126:5).

Seorang anak laki-laki datang kepada ibunya dan berkata, “Ibu, ada anak sebayaku di sana, di antara pepohonan, mengejekku. Apa saja yang kukatakan selalu ditirukannya. Aku berkata ‘halo’, ia berkata ‘halo’. Aku berkata ‘Siapa kamu?’, ia berkata ‘Siapa kamu?’ Aku berkata ‘Siapa namamu?’, ia berkata juga ‘Siapa namamu?’ Aku menjadi marah lalu aku berlari mencarinya, tapi ia tidak ada di sana. Aku berteriak ‘Akan kupukul kepalamu!’ dan ia berkata bahwa ia akan memukul kepalaku.”

Ibu anak ini berkata kepadanya, “Itu namanya gema, anakku. Jika engkau berkata ‘Aku mengasihimu’, maka ia akan menjawab yang sama.”

Gema atau gaung adalah pengulangan suara karena pantulan gelombang suara dari suatu permukaan benda. Apa yang kita ucapkan akan dikembalikan sesuai dengan suara kita. Hukum alam ini tidak dapat diubah. Jadi suatu hal yang mustahil apabila kita mengucapkan suatu kata dengan gema kata yang berbeda.

Bila kita mengerti kebenaran ini, sekarang kita harus mengerti kebenaran lain bahwa barangsiapa menabur, ia akan menuai, seperti apa yang kita ucapkan itulah yang digemakannya.

Firman Tuhan berkata, “Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu” (Gal. 6:8). Daging dan Roh  adalah dua fakta yang bertolak belakang. Sebelumnya, penulis kitab Galatia mendaftarkan perbuatan daging dan buah Roh (5:19-22). Jika kita melakukan segala macam kejahatan berarti kita telah menaburkan benih yang akan membawa kehancuran bagi diri kita. Sebaliknya, bila kita berbuat baik, kita akan menuai buah yang baik juga.

Ayat selanjutnya berkata, “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah” (ay. 9). Segala sesuatu ada waktunya – ada waktu untuk menabur dan ada waktu untuk menuai. Di sinilah kesabaran kita diuji. Betapa seringnya kita menjadi putus asa, karena apa yang telah kita tabur tampaknya belum menunjukkan hasil. Sampai kapan Tuhan aku akan menuai dari perbuatan baikku itu?

Tidak salah bila Anda bertanya kepada Tuhan dengan pertanyaan seperti ini. Hanya saja, apakah yang menjadi motivasi Anda menabur benih kebaikan itu? Apa sebenarnya yang menjadi motivasi kita ?[rhb]

Allah mencari para penabur yang bekerja dengan motivasi untuk kesenangan Tuan-nya, bukan kesenangannya sendiri.

 

Post a comment