No comments yet

Gereja Tanpa Batas

“Mereka diantarkan oleh jemaat sampai ke luar kota, lalu mereka berjalan melalui Fenisia dan Samaria, dan di tempat-tempat itu mereka menceriterakan tentang pertobatan orang-orang yang tidak mengenal Allah. Hal itu sangat menggembirakan hati saudara-saudara di situ” (Kisah 15:11).

 

SEBAGAI  umat Tuhan, Apa yang dapat membuat Anda berbahagia? Kalau Anda menanyakan hal ini kepada jemaat mula-mula, maka jawabannya pastilah jiwa-jiwa yang diselamatkan. Mereka begitu antusias untuk berlomba-lomba memenangkan jiwa. Bagi mereka satu jiwa itu tidak ternilai harganya. Bahkan saling mahalnya nilai jiwa manusia, Yesus sendiri tidak dapat membelinya dengan semua uang yang ada di jagad ini. Yesus juga tidak dapat membelinya dengan semua emas yang ada di seluruh dunia ini. Ia hanya bisa membelinya melalui pengorbanan dan kematian-Nya. Hanya inilah satu-satunya cara supaya manusia bisa dibeli lagi. Tetapi anehnya, masih saja ada orang-orang tidak waras yang berkata kalau jalan ke surga itu ada beberapa pilihan. Kalau memang demikian, lalu buat apa Yesus harus menderita dan mati di kayu salib?

Memahami pentingnya nilai jiwa ini sangat diperlukan untuk membakar hati gereja Tuhan supaya  mereka pergi untuk memberitakan Injil.  Jadi tidak heran kalau jemaat Tuhan mula-mula begitu gembira ketika mendengar banyak orang yang diselamatkan.

Saya sebenarnya malu untuk membandingkannya dengan zaman gereja masa kini. Jemaat Tuhan rupaya sekarang ini sudah luntur total dengan semangat penginjilan. Mereka sering mendapatkan sukacita semu ketika mendengar di acara KKR yang gereja mereka adakan, ada orang-orang yang  mau menerima Yesus sebagai Tuhan. Dan setelah di survei lebih lanjut, rupanya yang mau itu ya orang-orang itu lagi yang “senang” maju untuk didoakan oleh pendeta. Pokoknya maju terus!

Coba kalau ada gereja lain yang tidak sealiran dengan kita telah menjala banyak jiwa, paling-paling kita bereaksi dengan nada pesimis, “Ah, itu cuma sementara waktu saja. Entar juga orang-orang itu akan hilang dengan sendirinya.” Bahkan kalau gereja tetangga lebih “sukses” daripada kita, maka berubahlah wajah kita. Tidak ada kegembiraan. Sebab kita begitu egois yang dipikirkan hanyalah gereja milik kita sendiri. Padahal pengertian gereja itu adalah semua jemaat Tuhan yang tidak terbatas oleh organisasi dan denominasi. (hi/rhb)

Gereja sehat adalah gereja yang bertumbuh di dalam dan di luar, baik secara kualitas, maupun secara kuantitas.

Comments are closed.