Comments are off for this post

Hangus Dalam Kemuliaan

“Tetapi Petrus berkata: “Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu?” (Kisah Para Rasul 5:3).

Gereja mula-mula adalah jemaat yang unik. Mereka terbentuk karena adanya suatu kebutuhan yang mendesak bahwa mereka yang dikucilkan oleh keluarganya oleh karena nama Yesus, dapat bersatu dan bersekutu untuk saling menguatkan. Lukas menyebut persekutuan ini sebagai persekutuan yang “sehati dan sejiwa” (Kis. 4:32). Secara ajaib Roh Kudus menciptakan satu kemurahan hati di antara mereka yang diwujudkan dengan saling menjual harta miliknya (mungkin tanah atau juga rumah) dan membagi-bagikannya sesuai dengan keperluan masing-masing dengan hati gembira dan tulus, sehingga di antara mereka tidak ada seorangpun yang kekurangan (Kis. 4:34).

Ananias dan Safira juga tergoda untuk melakukan tindakan yang sama. Mereka menjual sebidang tanah dan hasilnya dipakai untuk kebutuhan hidup bersama dalam jemaat. Sayangnya tindakan mereka itu tidak tulus. Ada maksud-maksud jahat di hati mereka, sebab mereka menahan sebagian hasil penjualan. Mereka sehati untuk membohongi pemimpin gereja yang diangkat dan diurapi Allah, dan juga kepada Roh Kudus, Allah sendiri. Mereka bukan saja menghina dan merendahkan pemimpin gereja, tetapi telah menghina dan merendahkan Allah (Kis. 5-3-4). Akibatnya mereka mati seketika!

Mengapa dosa yang dilakukan Ananias dan Safira mendapatkan hukuman yang begitu berat dan mengerikan?
Di hadapan hadirat Allah semua dosa tersembunyi akan terbongkar. Ananias dan Safira tidak dapat bertahan dalam alam kemuliaan Allah yang begitu kuat. Dan bagi mereka yang tidak mengenal hati Allah juga bisa mati instan karena mereka mencoba masuk dalam hadirat-Nya dengan hati yang berdosa.

Saudara-saudara pada waktu dosa bertemu dengan kemuliaan Allah pasti ada reaksi yang terjadi. Ibrani 12:29 berkata, “Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan.” Kita bisa lolos saat ini dari penghakiman Tuhan bukan berarti Tuhan lalai dengan penghakiman-Nya (2 Pet. 3:9). Allah itu panjang sabar dan kebaikan-Nya menuntun kita pada pertobatan (Rm. 2:4). Sebagai orang yang sudah bertobat kita harus hidup semakin saleh dan suci. (hw/rhb)

Air dan minyak tidak dapat bersatu, begitu pula dosa dan kemuliaan.