they all love a thick rod.www.xxx-porn.center
Comments are off for this post

Hati Yang Mau

“Sebab aku ini rela bukan saja untuk diikat, tetapi juga untuk mati di Yerusalem oleh karena nama Tuhan Yesus” (Kisah 21:13b).

Saudara kekasih dalam Yesus Kristus, Rasul Paulus mengajarkan kepada kita ‘hati yang mau’ kepada kita. Dia rela bukan saja diikat bahkan matipun dia mau oleh karena nama Tuhan Yesus. Apakah kita memiliki ‘hati yang mau’ itu? Apa yang dimaksud dengan ‘hati yang mau’ itu?

Tuhan Yesus sendiri juga dalam pelayanan-Nya menunjukkan kepada kita ‘hati yang mau’ itu. Yang pertama Dia mau meninggalkan surga mulia menjadi hina dengan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan kita. Yang kedua Dia rela mati di kayu Salib bahkan terlebih dahulu disiksa dengan siksaan yang amat berat. Inilah ‘hati yang mau’ di mana dengan kerelaan melakukan apa yang menjadi kehendak Allah Bapa di surga.

Saudara apakah saudara sudah memiliki ‘hati yang mau’ itu. Atau kita sering kali suka memberontak pada kehendak Allah. Atau kadang-kadang kita mau kalau itu menguntungkan bagi kita. Kalau tidak mengenakkan bagi kita, kita tidak mau melakukan kehendak Bapa kita. Rasul Paulus tahu bahwa kalau dia masuk Yerusalem dia akan ditangkap dan akan diikat serta dipenjarakan. Bahkan bukan itu saja, dia akan dihukum mati. Tapi ‘hati yang mau’ itu yang tidak menggoyahkan dia untuk masuk ke Yerusalem dan siap menerima risiko apapun juga. Karena setelah dia masuk Yerusalem dia ditangkap dan diadili serta akhirnya dihukum mati. Marilah kita memiliki ‘hati yang mau’, yang selalu mau taat, mau setia, mau berkorban, mau mengasihi, mau diubahkan sesuai dengan kehendak-Nya meskipun itu sakit, mau dengar-dengaran akan Firman Tuhan, serta mau bertobat bila didapati kesalahan, mau berubah dari kelakuan yang buruk dimata Tuhan.

Apakah kita sebagai Anak Allah, umat tebusan-Nya, mau mencontoh pribadi Tuhan Yesus yang memiliki ‘hati yang mau’ untuk kita yang berdosa ini. Dia bahkan demi kita yang berdosa, mau memberikan nyawanya untuk menebus kita. Kalau Dia saja untuk kita mau, bukankah kita seharusnya lebih memiliki ‘hati yang mau’? (ip/rhb)

Milikilah ‘hati yang mau’ melaksanakan kehendak-Nya, dan persembahkanlah ‘hati yang mau’ itu kepada Tuhan.

 

Comments are closed.