No comments yet

Jalan Yang Lurus

“Tetapi orang-orang yang menyimpang ke jalan yang berbelit-belit, kiranya TUHAN mengenyahkan mereka bersama-sama orang-orang yang melakukan kejahatan…..” (Mazmur 125:5).

Yesus mengajarkan bahwa di dunia ini dikenal ada dua jalan: sempit dan lebar. Yang sempit adalah pintu yang menuju kehidupan sedangkan yang lebar menuju kepada kebinasaan (Mat. 7:13, 14). Tapi Alkitab juga mengajarkan adanya dua jalan lagi: berkelok-kelok / berbelit-belit dan lurus.

Salah satu sebab mengapa banyak pendaki tewas dalam usahanya mencapai puncak gunung, karena mereka mencoba mencari jalan baru. Jalan umum yang biasa dipakai para pendaki tidak menarik hati mereka. Mereka mencoba mencari tantangan baru, situasi baru, suasana baru, dan petualangan baru. Mereka lupa jika nyawa mereka hanya satu dan tidak ada cadangan nyawa lainnya. Begitu menyadari bahwa mereka tersesat, mereka berusaha kembali ke jalan yang benar. Tapi apa dikata, mereka hanya bisa berputar-putar mengitari suatu lingkaran, yang orang bilang “lingkaran setan”. Berjam-jam bahkan berhari-hari mereka melangkah, tapi mereka selalu kembali ke jalan yang sama – seperti berjalan melingkari suatu lingkaran yang tidak ada ujung pangkalnya. Kelaparan, kehausan, kedinginan, dan ketakutan mencekam pendaki naas ini. Berteriak tidak akan ada gunanya. Pasrah, hanya pasrah itulah yang dapat mereka lakukan. Jika tidak ada orang yang menuntun mereka ke jalan yang benar, kematian hanyalah soal waktu.

Seorang tukang sihir, Elimas, pernah ditegur Paulus karena ia berusaha mempengaruhi gubernur Siprus untuk tidak mempercayai Injil yang diberitakan Paulus. Paulus menegurnya, “…..Hai anak Iblis, engkau penuh dengan rupa-rupa tipu muslihat dan kejahatan, engkau musuh segala kebenaran, tidakkah engkau akan berhenti membelokkan JALAN TUHAN yang LURUS itu” (Kis. 13:10)? Anda lihat, jalan kebenaran disebutkan dengan jalan yang lurus. Yesus adalah jalan yang lurus itu, seperti yang dikatakan-Nya sendiri (Yoh. 14:6).

Ada jutaan jiwa manusia yang sampai sekarang ini masih menyerukan supaya mereka ditunjuki jalan yang lurus. Dalam setiap doa, mereka memohon petunjuk kepada ilahnya untuk diberikan jalan itu. Apakah mereka tidak mengerti bahwa jalan yang lurus itu telah diberitakan hampir dua ribu tahun yang lalu? Kalau kita menemukan orang yang masih berseru-seru, mencari jalan yang lurus itu, mulut kita janganlah bungkam. Beritahu mereka bahwa doa mereka telah dikabulkan dua ribu tahun yang lalu![rhb]

Orang yang tersesat seringkali tidak menyadari bahwa dirinya tersesat, kecuali jika ada orang yang menyadarkannya.

 

Post a comment