Comments are off for this post

Jolinda Wade, Lepas Dari Cengkraman Maut Kuasa Kegelapan

KESAKSIAN,BETHANY.OR.ID-Jolinda Wade, ibu superstar NBA,  Dwyane Wade, pernah terjerat  “kuasa kegelapan”. Namun kini,  dia seolah membuat “neraka  bergetar”, dikarenakan aktif dalam pelayanan pelepasan untuk  membebaskan mereka  yang  “tertawan kekuatan jahat.

Disaat  Jolinda (55)  melangkahkan kakinya ke atas mimbar khotbah, maka dapat digambarkan, seolah hati iblis bergetar. Itu disebabkan perempuan tersebut memiliki kekuatan kerajaan Allah untuk mengusir para iblis.
Sehebat apa yang terjadi akibat dari “kuasa kegelapan” itu, dan semampu bagaimana menjadikan “neraka bergetar” pada diri perempaun bernama Jolinda Wade itu?

Nyatanya,  tidak datang  begitu saja dan secara tiba-tiba menjadikannya memiliki “kekuatan”  sebagaimana yang dilakukannya saat ini.  Jauh sebelumnya, dia harus menjalani kehidupan yang berlatar belakang  sangat buruk. Baru sekitar 10 tahun yang lalu yang menjadi awal pertobatannya. Bayangkan, karena tingkah lakunya sendiri, sebelum pertobatannya,  dia dikenal sebagai pecandu sekaligus pengedar heroin dan cocaine, selain  menjadi peminum berat minuman beralkohol. Malahan harus menjadi gelandangan dengan berkehidupan  di jalanan kota metropolitan Chicago, sekaligus selaku penjual barang haram tersebut. Seringkali dia harus tidur di emperan bar. Malahan menjadi  buronan kriminal selama lebih  dari empat tahun.
Begitulah, saat Jolinda mengisahkan pertobatannya, dia ingin mengajak sebanyak mungkin  mereka yang menjadi pencandu narkoba untuk mengikuti jejaknya masa kini, yaitu bertobat dan hidup dalam pemulihan. Malahan dalam pelayanannya, kini perempuan itu terkenal untuk melayani pasutri yang sedang mengalami keretakan atau kehancuran berumah tangga.

Bagi Jolinda, kehidupan masa lalunya sebagai kesalahan yang sangat disesalinya. Begitu dia selau menyatakan dalam pengakuannya. Karenanya, pada saat kini  dia memegang misi dan kerinduan menolong orang-orang yang terluka dan melepaskan mereka dari genggaman iblis dan  memulihkan mereka bagi kemuliaan Tuhan. Maklum, dia pernah merasakan bagaimana serangan iblis yang menghancurkan kehidupan keluarganya, sehingga kini dia sepenuhnya disibukkan untuk melayani Tuhan dengan pelayanan kelepasan dan pemuridan.
“Hidup saya pernah terjerumus. Saat Dwyane berusia 4 bulan, saya bercerai dengan suami.” Demikian pengakuan  Jolinda Wade di hadapan 10.000 jemaat Tuhan di The Faith Center di Sunrise, Florida, musim panas November 2010 lalu. Sambungnya: “Saya berjalan sebagai wanita yang mati. Tetapi oleh karena anugerah dan kemurahan Tuhan, saya diambilNya dari jalanan. Itulah alasan mengapa saya di sini. Saya akan melakukan semuanya demi Tuhan. Komitmen serta selalu menyatakan  bersedia untuk melakukan kehendakNya.”

Menghadapi Frustrasi.

Walau dibesarkan dekat dengan lingkungan gereja, tetapi Jolinda tidak pernah mendedikasikan hidupnya kepada Allah. Pola hidupnya mengikuti lingkungan pergaulan rekan-rekan seusianya saat itu. Masalahnya, kalau dia tidak mengikuti pergaulan yang sedang tren saat itu, maka akan dicemoohkan oleh para kawan sebayanya. Dalam kehidupan semacam itu, maka di saat menginjak masa remaja,  dia mulai mengenal minuman keras. Begitu pula dengan kawan-kawan sekolahnya.

Walau setelah menikah pun,  kebiasaannya tiada berubah. Apalagi  setelah bercerai dengan suaminya, kehidupannya bertambah parah. Menjadi kecanduan heroin, kokain, alkohol dan rokok. Bukan pecandu saja, namun juga menjadi pengedar narkotika di jalanan di metropolitan Chicago.

Melihat kondisi keluarganya yang berantakan, menjadikan anak  perempuannya, Tragil Wade,  mengambil inisiatif untuk mengasuh  Dwyane, adiknya. Tetapi Dwyane masih berusia  8 tahun, sehingga Tragil memutuskan memberikannya kepada sang ayah, tentara yang berpangkat sersan.

Sementara itu kehidupan Jolinda, kian menjadi-jadi terperosok dalam obat bius dan alkohol. Bahkan untuk mendapatkan uang, bersedia menjadi sukarelwan/kelinci percobaan penelitian untuk obat-obatan suatu perusahaan, sebelum mengedarkannya ke pasaran. Melalui percobaan tersebut, kalaulah hasil mutu obat-obatan itu jelek, dia bisa tercancam kematiannya. Untung dia hasil penelitian itu tidak menyebabkan Jolinda mati.
Setelah tinggal  selama dua tahun bersama ayahnya, sikecil Dwyane tidak pernah melihat ibunya, dan baru dapat berjumpa di saat mengunjungi ibunya  di penjara Cook County pada 1994. Ibunya dipenjara karena karena tertangkap ketika menjual kokain. Dwyane yang berusia 10 tahun berteriak histeris  dan menangis , sebab dia hanya bisa berbicara dengan ibunya melalui telepon saja, dan  hanya bisa melihat wajah ibunya lewat kaca pembatas.
“Saya  saat itu ingin berbicara banyak dengan ibuku, tetapi waktunya dibatasi dua menit saja” ungkap Dwyane.
Sementara itu Tragil sudah beberapakali membawa ibunya ke pusat rehabilitasi, akan tetapi  belum membuahkan hasil.  Jolinda masih saja kecanduan obat dan kembali hidup di jalanan. Hal seperti itu membuat rasa di hati Tragil. Terlebih ketika mendengar ada seorang wanita mati karena kelebihan narkotika (overdosis) yang  ditemukan tak jauh dari rumahnya. Pikirnya, itu pasti ibunya.

“Saya berteriak-teriak, sebab saya yakin itu pasti ibu,” ungkap Tragil: “Saya mulai berpikir, bagaimana untuk mengurus penguburannya, sebab saya sudah tidak punya uang lagi”.
Beruntung, meskipun beberapa kali overdosis, tubuh Jolinda tetap kuat. Namun bagi anak perempuannya, kesabarannya sudah diambang batas, sehingga ketika Tragil dalam perasaan yang frustasi, menganggap sebagai yang terakhir kalinya bakal bertemu ibunya. Dengan ditega-tegakan, dia menyatakan kepada ibunya,  bahwa dia tidak bisa lagi  memperhatikan dan mengurusinya.
Akan tetapi, Jolinda tetap tidak berusaha berjuang untuk melawan tipu muslihat  iblis yang mempengaruhinya. Tragil menyadari kalau ibunya sedang terkubur di dasar jurang yang dalam, dan dia tak cukup kuat menghadapi untuk menolongnya, sehingga menyerahkan kesemuanya kepada Tuhan.
Sampai pada akhirnya pada 14 oktober 2001.
Doanya dijawab.

“Tragil menghampiri saya dan memasukkan saya ke mobil,” ungkap Jolinda: ”Saya saat itu menderita sakit karena  ketagihan obat, akan tetapi saya tidak membiarkan dia mengetahuinya. Dia berkata kepada saya, dia mengkawatirkan sesuatu yang dapat terjadi terhadap saya. Saya tidak tahu saat itu, bagaimana buruknya perbuatan saya melukai hati anak saya.”

Membayar Kesalahan.

Entah bagaimana, tiba-tiba perempuan itu pergi ke gereja. Pengkhotbah tiba-tiba memanggil namanya dan memintanya membaca II Timotius 3:5  yang berkata:  “Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu.”  Melalui firman itu, menurut pengakuan Jolinda kemudian, bahwa dia mendengar Tuhan berkata kepadanya:  “Apa yang kamu lakukan sudah keterlaluan.”
“Saat itulah saya bertobat,  karena Kristus hidup di dalam diri saya.” Kenangnya.
Dia akhirnya meninggalkan Chicago dan tinggal bersama rekannya di kota Indiana.  Dia berkata kepada pendetanya dan kepada Tragil,  bahwa dia akan menguburkan masa lalunya. Berarti juga meninggalkan obat-obatan terlarang seperti kokain, heroin, alkohol dan rokok.

Namun saat itu Tragil masih meragukan sikap ibunya. Hal semacam itu seolah tidak mungkin. Namun,  ketika Jolinda yang saat itu selaku buronan pihak kepolisian lalu  menyerahkan diri kepada polisi Chicago, menjadikan seluruh keluarganya tahu, bahwa perempuan itu bersungguh-sungguh ingin berubah.

Saat itu Dwyane sedang berkuliah pada semester dua di Marquette University. Ketika dia pulang ke rumahnya untuk merayakan Natal, dia bertemu dengan ibunya yang sudah “bersih dan pulih”. Jelas hal itu sangat menggembirakan hatinya, sampai pada saat ibunya berkata kepadanya, bahwa dia harus kembali ke penjara.
“Hati saya sempat terluka dan sedih, sebab saya merasa seperti memiliki ibu lagi, akan tetapi kemudian dia meninggalkan saya lagi,” ungkap Dwyane. Namun pendirian Jolinda kukuh, bahwa dia harus membayar kesalahannya sebelum dia menjalani kehidupan baru.

Pada 2 Januari 2002, Jolinda kembali memasuki penjara dan menjalani hukumannya selama 14 bulan.
Dengan hati yang hancur,  Dwyane menulis tentang ibunya  dalam sepucuk surat untuk ibunya, bahwa sementara sang ibu itu di dalam penjara, namun ibunya adalah pahlawannya. Pernyataan tersebut yang lebih memberikan kekuatan kepada  perempuan itu dalam menjalani  hukuman.
Setelah dipulihkan itulah, perempaun tersebut  mulai menjalankan  pelayanannya untuk  menjangkau mereka yang hidup di dalam bar-bar, menolong kaum wanita dan membawa mereka pada jalan yang benar, yaitu mengenal Yesus Kristus.

“ Ketika anda memandang ke atas dan hanya pada Kristus, maka anda akan mengenal Dia,” kata Jolinda. Lanjutnya: “Tuhan mengajar saya kekuatan yang mengikat dan melepas, di saat saya sedang dikelilingi tembok. Dia mengajar saya untuk berdoa dalam peperangan rohani. Lalu saya berpuasa, belajar menjadi prajurit Tuhan. Saya membangun mental baja. Saya benci pada setan, dan berperang terus terhadapnya.”

Nyanyian Penebusan

Akhirnya dia dibebaskan dari penjara pada 5 Maret 2003. Jolinda keluar dalam keadaan bersih, pulih dan terbebas dari kekuasaan iblis yang pernah mengikatnya. Bgeitulah dia  mulai membangun keluarganya kembali.
Tiga hari usai bebas dari penjara, untuk pertama kalinya dia melihat Dwyane sedang bermain bola basket, meskipun Dwyane sudah bermain bola basket selama lima tahun. Sebab, dari Universitas Marquette  itulah Dwyane merintis karirnya. Dia menjadi pimpinan pada setiap kejuaraan. Ituha yang menjadi perhatian ibunya. Begitu pula sejak itu, Jolinda memperbaharui hubungannya  dengan keempat anaknya dan juga suaminya, sebab dia merasa, bahwa sebelumnya dia telah melukai perasaan mereka.

bersama dwyane buatkan tempat ibadah gerejaLalu terjadilah sesuatu yang luar biasa. Pelayanan Jolinda semakin maju, sehingga mendapatkan dukungan sepenuhnya dari keluarganya. Bahkan Tragil dan ayahnya memberikan perhatian khusus terhadap gereja yang dirintis Jolinda. Sebagai contoh, saat Jolinda membangun gereja, Dwyane mengeluarkan uang 7 juta dolar untuk diberikan kepada ibunya.

Jolinda ditahbiskan menjadi pelayan Tuhan oleh  Gereja Baptis pada Januari 2007. Akan tetapi,  saat dia meresmikan gerejanya, dikatakannya bahwa gereja yang dilayaninya itu adalah untuk berbagai denominasi dan diberinya nama “Temple of Praise Binding and Loosing Ministry International” yang berpusat di Chicago. Pada 18 Mei 2008, untuk pertama kalinya perempuan itu melayani sebagai pengkhotbah.

“ Saya menghormati ibu saya, di mana  pada akhirnya dari hari ke hari dia bisa memanfaatkan hidupnya.Saya bangga kepadanya.” kata Dwyane sebelum ibunya melayani gereja untuk pertama kalinya. Sambungnya: “Setiap orang berpikir, saya adalah suatu mukjizat di dalam keluarga. Namun saya pikir, justru  ibu saya itulah suatu mukjizat. Saya pikir, bahwa saya begitu diberkati, akan tetapi ibu saya terlebih diberkati. Dia diurapi Tuhan”
Ratusan jemaat menyembah di “Temple of Praise Binding and Loosing Ministry International” dan terasa suasana karismatik di dalamnya, di mana  Jolinda Wade berkhotbah dengan menyala-nyala.
Selain itu, sasaran Jolinda terfokus untuk dapat  memberi makan dan menolong “orang-orang pinggiran” di Chicago.

“ Saya melihat orang-orang mendengarkan khotbahnya dan ingin menjadi bagian dari apa yang dikerjakanya selama ini. Sebab dia begitu kuat melakukan peperangan rohani.” kata Dwyane. Ucapannya tersebut menguatkan terbentuknya sikap Dwayne dan Tragil yang berkeyakinan kepada Tuhan berkat tindakan dari ibunya.
Belajar dari kehidupan di jalanan, pada akhirnya kehidupan JolindaWade dapat membawa pengaruh positif bagi umat lainnya.  Dalam pelayanannya, dia melakukan kerja sama dengan penginjil ternama Paula White,  Henry Fernandez (pendeta The Faith Center  Ministries , Florida ) dan Lucille O’Neal.

Pada 25 July 2008, Fernandez mengundangnya menjadi pembicara pada National Parent’ Day”, disebabkan kesaksiannya hidup.  Dulunya  dia sebagai ibu yang buruk, namun berubah menjadi orang tua yang baik dan membangkitkan anak-anaknya menjadi sukses. Fernandez menyatakan, bahwa dari kesaksian tersebut, maka dia diberkati dan mulai memahami bagaimana cara melayani orang-orang yang terperangkap oleh narkoba.
Kisah hidup Jolinda Wade dari keterjerumusannya dalam jurang neraka, pada akhirnya mampu berjuang untuk muncul kembali dalam kehiduupan rohaniah. Tak berlebihan apabila seolah kisah perjalanan hidup To Hell and Back. Memasuki neraka dan kembali dari sana. (aw/as/sumber:tabloid.bethany.184 )