Comments are off for this post

Kado Yang Terbaik

“Aku mau menceritakan tentang ketetapan TUHAN; Ia berkata kepadaku: “Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini” (Mazmur 2:7).

“Anak-anak, bulan depan kita akan merayakan Natal. Kita akan merayakan hari ulang tahun Tuhan Yesus. Mari kita siapkan kado yang terbaik buat Tuhan Yesus, ” kata seorang guru sekolah Minggu kepada sekitar 20 anak-anak kecil di ruang kelas gereja yang agak sempit itu. Maksud guru sekolah Minggu tentang kado adalah hati yang lebih sungguh-sunguh lagi mengikut Tuhan, bukan kado dalam arti benda betulan. Tapi tidak bagi seorang anak kecil yang duduk di pojok kanan, dekat dengan jendela. Dengan cermat ia mengikuti setiap perkataan gurunya. Tak ada satu katapun yang lepas dari perhatiannya.

Anak kecil ini, berusia sekitar 7 tahunan, tinggal di gubuk sederhana di dekat sungai di desanya dengan kedua orang tuanya. Kehidupan keluarganya yang serba pas-pasan, tidak menyurutkan keinginannya untuk tetap rajin mengikuti sekolah Minggu yang berjarak ± 3 km dari rumahnya. Meskipun orang tuanya tidak mampu membelikan sepeda, tetapi ia tetap rajin ke sekolah Minggu dengan berjalan kaki sambil bersenandung lagu-lagu pujian.

Malam itu, setelah guru sekolah Minggunya berbicara tentang kado buat Tuhan Yesus, ia tidak dapat memejamkan matanya. Gurunya bilang bahwa Tuhan Yesus sangat mencintainya, memperhatikannya, dan menyayanginya. Timbul dari dalam hatinya untuk dapat memberikan kado pada hari ulang tahun-Nya. Ia ingin memberikan kado yang terbaik. Tapi kado apa yang dapat diberikan? Tiba-tiba terlintas dalam pikirannya, bukankah gurunya pernah bercerita bahwa Tuhan Yesus tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalanya (Mat. 8:20)? Bantal, ya bantal, adalah kado yang tepat, demikian pikirnya. Dasar anak kecil berhati polos!

Keesokan harinya ia pecah celengannya dan bergegas ke tempat orang menjual kasur dan bantal di pasar. Tapi ia urungkan niatnya itu. Aku harus mencari toko di kota untuk mencari bantal yang terbaik, gumamnya dalam hati.

Dengan bekal yang serba pas-pasan, berangkatlah ia ke kota sendirian. Di kelilinginya seluruh kota dan di dapati toko yang menjual bantal “bulu angsa”, kualitas ekspor. Sayang uangnya tidak cukup. Dengan sedih ia kembali pulang.

Tapi ia tidak kekurangan akal. Tetangganya yang berjualan telor didatanginya supaya memberikan pekerjaan kepadanya seusai sekolah. Demikianlah akhirnya ia diterima menjadi “karyawan” tetangganya.
Tepat hari natal kurang 2 hari, ia berhasil membeli kado buat Tuhan Yesus dari hasil gaji dan celengannya. Segala keletihan dan kelelahannya hilang tatkala kado itu berada di tangannya. Kini ia siap mempersembahkannya buat Tuhan Yesus. (rhb)

Jika engkau masih mempunyai yang terbaik, berikan kepada Tuhan Yesus.

Comments are closed.