Comments are off for this post

Keadilan Allah

“Ada lagi yang kulihat di bawah matahari: di tempat pengadilan, di situpun terdapat ketidakadilan, dan di tempat keadilan, di situpun terdapat ketidakadilan” (Pengkhotbah 3:16).

Kalau Anda adalah pemirsa setia televisi, pasti Anda tidak melupakan seorang tokoh tinggi, hitam, dengan ciri fasik tanda bulan sabit di keningnya. Ya, beberapa waktu lalu beberapa stasiun televisi menayangkan kisahnya. Siapakah dia? Dia adalah Judge Bao. Menurut sejarah, tokoh ini benar-benar ada dan hidup pada masa Dinasti Song (960-1279). Meskipun cerita yang terjadi di film merupakan karya sang sutradara, tapi setidaknya gelar hakim yang tak kenal kompromi melekat erat dalam dirinya.
Salah satu kisah tentang sikap keadilannya adalah ketika ia harus mengadili Chen Shimei, menantu raja, atas gugatan dari Qin Xianglian. Dulunya, Chen dan Qin adalah sepasang suami-istri. Chen pergi ke ibu kota Kaifeng untuk mengikuti ujian negara. Setelah lulus, Chen bukannya kembali kepada keluarganya. Ia malahan mengaku masih bujangan dan berhasil menggaet putri raja.
Sementara itu sang istri yang ditinggalkannya harus membanting tulang untuk menghidupi anak-anaknya dan merawat mertuanya. Saat kelaparan melanda desanya sampai menewaskan mertuanya, Qin membawa anak-anaknya mengungsi ke Kaifeng. Tragisnya, ketika sampai di sana ia mengetahui bahwa suaminya telah menikah lagi dan menolak mengakui mereka.
Qin mengadukan nasib malangnya kepada Hakim Bao yang terkenal dengan keadilannya. Hakim Bao mengambil tindakan tegas dengan mengambil keputusan untuk menghukum mati sang menantu raja. Keputusan ini ditentang permaisuri yang melarangnya mencampuri urusan keluarga raja. Perintah ini ditanggapi dengan ujaran dingin, “Keluarga raja dan rakyat jelata mempunyai kedudukan yang sama. Jadi harus tetap tunduk pada hukum negara.”
Manakala permaisuri mengancamnya dengan kekerasan, Bao malah memilih menanggalkan topi dan jubahnya. Apapun yang terjadi, hukuman mati itu harus tetap dilaksanakan.
Sebagai bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur Pancasila serta melandaskan negara ini pada hukum, kita terkadang malu melihat kenyataan yang terjadi. Di sana-sini banyak terjadi kepincangan hukum. Hukum yang berlaku masih kalah “sakti” dengan “kebijaksanaan”. Hasilnya, yang salah dilepaskan, yang benar dipenjara.
Kalau kita sulit mencari “Hakim Bao” di negeri ini, kita mempunyai Hakim yang jauh lebih adil dari segala hakim, bahkan Ia masih lebih bijaksana dari Hakim Bao. Dia adalah Yesus Kristus. Kalau Anda telah diperlakukan dengan tidak adil, berlakulah arif. Jangan mencoba main hakim sendiri atau janganlah membenci. Serahkan kepada-Nya![rhb]

Di dunia ini tidak ada keadilan yang sempurna, kecuali keadilan dari Allah.