Comments are off for this post

Keamanan Dari Tuhan

“…..Ya TUHAN, selain dari pada Engkau, tidak ada yang dapat menolong yang lemah terhadap yang kuat…..” (2 Tawarikh 14:11).

 

SAAT Krisis ekonomi  melanda  Indonesia, banyak karyawan alami pemutusan hubungan Kerja (PHK), belum lagi meningkatnya kejahatan di mana-mana, diantaranya   peristiwa penjarahan 12—14 Mei 1998.

Semua orang merasa tidak aman, dipenuhi rasa kuatir dan cemas. Tidak hanya di pasar atau tempat ramai, di rumah pun orang tetap kuatir. Pertanyaan yang mulai muncul, adakah tempat yang aman?

Untuk memenuhi rasa aman, orang mulai membangun pagar yang tinggi, ataupun jika punya banyak simpanan uang, mengungsi ke luar negeri. Tetapi inipun tidak mengalahkan rasa tidak aman, karena pada kenyataannya tidak ada tempat yang benar-benar aman. Jikalau demikian, apakah ada tempat yang aman?

Kenyataan ini juga yang dihadapi oleh seorang raja Yehuda, Asa. Saat negerinya sedang menghadapi peperangan, ketakutan dan kegelisahan mencekam dirinya. Bagaimana tidak, jika negerinya yang kecil dan jumlah pasukan yang terbatas serta perlengkapan yang sangat minim, mereka harus menghadapi pasukan musuh yang sangat banyak dan persenjataan yang canggih. Meskipun peperangan belum dimulai, namun secara teoritis, mereka pasti menderita kekalahan yang berarti negeri mereka akan dikuasai. Mereka harus siap menghadapi kenyataan untuk kalah dalam peperangan dan diperbudak oleh bangsa lain. Perasaan tidak aman pun menguasai seluruh negeri, seluruh rakyat mencoba melarikan diri, ketidakpercayaan terhadap pemerintah semakin besar, terlebih lagi keamanan nasional sedang di ujung tanduk.

Yang sangat menggagetkan adalah keputusan dan tindakan raja Asa dalam mencari jalan keluarnya. Ia  tidak berusaha menghubungi negara lain untuk mencari bantuan, baik berupa dukungan moril maupun persenjataan. Dia juga tidak mencoba bertahan dengan kekuatannya sendiri, atau melalui “orang-orang pintar” melainkan dia mencari Tuhan. Dia berseru kepada Tuhan, mengajukan perkaranya dihadapan Tuhan dan menaruh seluruh pengharapannya kepada Tuhan. Di dalam doanya, dia mengakui bahwa kekuatan lawan melebihi kekuatannya dan dia tidak akan mampu mengalahkannya. Tetapi dengan iman ia berkata: “…..selain dari pada Engkau, tidak ada yang dapat menolong yang lemah terhadap yang kuat…….” (2 Taw. 14:11). Dengan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, Raja Asa merasa aman dan ia-pun maju berperang.

Tuhan menjawab doanya,  sehingga mereka menang. Raja Asa menemukan rasa aman saat bersama-sama dengan Allah. Saat dia menghadapi krisis, ataupun saat kerajaannnya sedang makmur, dia selalu merasa aman karena  Tuhan.[rhb]

 

Hanya Allah saja yang dapat menjamin keamanan yang kita.