Comments are off for this post

KEDAMAIAN HATI

“Hendaklah kamu semua … penyayang dan rendah hati, dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati.” (1Petrus 3:8,9)

Bagaimana reaksi kita terhadap kritik yang tiba-tiba  menyerang? Jika kritik itu membuat kita membalas para pengkritiknya  dengan sikap marah, maka kita perlu belajar dari seorang pengkhotbah di bernama Jonathan Edwards (1703 -1758).

Edwards, yang dinobatkan oleh para cendekiawan sebagai filsuf yang penuh wawasan, diserang oleh para pejabat gereja di Northampton, Massachusetts, dengan penuh dendam. Mereka merasa Edwards bersalah mengajarkan bahwa seseorang harus dilahirkan kembali dahulu sebelum turut ambil bagian dalam perjamuan Tuhan.

Meskipun dipecat dari gereja, Edwards tidak berhenti mengasihi dan mengampuni. Salah satu anggota jemaat yang memberikan dukungan kepadanya, menulis tentang dirinya, “Saya tidak pernah sedikit pun melihat tanda-tanda tidak senang di wajahnya … ia selalu muncul sebagai utusan Allah, yang sukacitanya terpancar dan menjangkau musuh-musuhnya.”

Edwards hanya meniru teladan Tuhan Yesus. Ketika Sang Juru Selamat dihina, Dia tidak membalas menghina. Ketika Dia dituduh bersalah, Dia tetap diam, “seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya” (Yesaya 53:7).

Masih dapatkah Anda tetap memiliki kedamaian hati, bahkan ketika Anda dikritik? Apabila Anda meminta pertolongan Roh Kudus, Anda akan mampu menanggapi dengan cara yang sama seperti Kristus saat menanggapi tuduhan atau gosip yang salah. [vcg/rhb].
Apapun  Kritik  yang disampaikan kepda kita, terimalah dengan syukur, sesuatu yagn terbaik pasti ada dalm diri kita.