Comments are off for this post

Menjemukan

Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar” (Pengkhotbah 1:8).

Sepertinya tidak ada manusia di muka bumi ini yang tidak pernah didera dengan kejemuan. Entah itu di rumah, di kantor, di sekolah, atau bahkan dalam rumah tangga, kejemuan ini melanda hampir semua manusia. Tanyalah kepada tukang becak, apakah mereka pernah jemu? Atau kepada direktur perusahaan, apakah mereka pernah didera kebosanan? Jawaban mereka pastilah sama, pernah! Bahkan banyak di antara mereka yang menghabiskan hidupnya dalam masa-masa yang menjemukan, membosankan, dan monoton.
Kalau Anda adalah ibu rumah tangga, Anda pastilah jemu dengan suasana rumah yang setiap hari hanya itu-itu saja. Mengurusi anak, menyiapkan sarapan, nonton TV, tidur, dan itu-itu saja yang dikerjakan setiap hari. Atau kalau Anda adalah pegawai perusahaan, setiap hari mengurusi dokumen-dokumen yang membosankan, rapat-rapat menjemukan, apalagi setiap hari mendengar bos ngomel melulu. Mungkin juga Anda adalah seorang konglomerat dengan berbagai aktivitas yang seringkali hanya untuk bersenang-senang, seperti piknik, berpesiar ke luar negeri, dsb. Tapi tetap saja Anda tidak dapat mengingkari bahwa seringkali Anda didera kebosanan. Uang Anda tidak dapat menghapus kata bosan dalam kamus hidup Anda. Kejenuhan dan kebosanan begitu mencekik Anda sehingga Anda seolah-olah ingin mati saja.
Tidak hanya orang awam saja, ternyata banyak pendeta dan para pelayan Tuhan yang “terjangkiti” dengan penyakit yang sama – jemu! Tidakkah demikian para pelayan Tuhan?
Bagaimana sebenarnya membuat hidup itu indah dan penuh dengan keceriaan? Coba teliti kehidupan Rasul Paulus. Meskipun hidupnya penuh dengan penderitaan karena salib, tetapi tak pernah sepatah kata pun ia berkata bahwa ia jemu dan bosan menjadi pemberita Injil. Ia mempunyai resep yang manjur. Resep itu ada dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, “Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan MENGARAHKAN diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” (Fil. 3:13, 14).
Oh saudaraku, ia mempunyai sasaran hidup. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, dan setiap detik adalah hidup untuk mencapai sasarannya itu – menyelesaikan tugas Allah. Pikirannya selalu dipenuhi dengan firman dan matanya tertuju kepada Tuhan Yesus.

Di surga tidak ada kebosanan.