No comments yet

Kepenuhan Roh Kudus

“Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani” (Kisah 4:31).

 

KITA sering dibingungkan dengan istilah baptisan Roh Kudus dan kepenuhan Roh Kudus. Peristiwa yang terjadi pada hari Pentakosta di kamar loteng di Yerusalem itu merupakan fenomena baptisan dan sekaligus kepenuhan Roh Kudus yang ditandai dengan berbahasa lidah (Kis. 2). Tercatat ada 120 orang yang mengalami baptisan itu, termasuk para murid Tuhan seperti Petrus, Yohanes, dll. Alkitab berkata seperti ini,

“Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya” (Kisah 2:1-4). Tetapi kepenuhdan Roh Kudus terjadi lagi di dalam Kisah 4 ini. Padahal mereka adalah orang-orang yang telah mengalami lawatan Roh Kudus di kamar loteng Yerusalem.

Mengapa harus terjadi lagi kepenuhan Roh Kudus? Oh ya, sebab mereka mulai mengalami degradasi rohani. Setelah mereka mengalami baptisan dan kepenuhan Roh Kudus di kamar loteng, mereka mengalami tantangan dan aniaya yang hebat dari para pembenci kebenaran. Dan perjuangan itu jelas membuat mereka letih. Mereka membutuhkan kesegaran baru dan kekuatan baru untuk melanjutkan perjuangan mereka memberitakan Injil. Karena itulah mereka perlu mengalami kepenuhan Roh Kudus lagi. Dan apa yang terjadi kalau mereka dipenuhkan dengan Roh Kudus lagi? “…mereka memberitakan firman Allah dengan berani.”

Kita perlu juga mengalami kepenuhan Roh Kudus setiap saat. Seringkali kita menamai keletihan rohani. Kita merasakan kegersangan dan ketidakgairahan dalam diri kita. Apa yang kita butuhkan adalah “setrum” dari surgawi yang akan mengecas kita seperti baterai yang harus dicas ulang supaya kita menjadi “hidup” lagi. (hw/rhb)

Gereja tanpa Roh Kudus adalah arang tanpa api.

Post a comment