Comments are off for this post

Kunci Doa Berkemenangan

“…… Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Dan seketika itu juga anaknya sembuh” (Matius 15:28).

Banyak kali dalam kehidupan kekristenan kita, sepertinya Allah mengabaikan doa-doa kita; sepertinya Dia tidak mau menjawab doa kita; sepertinya Dia menutup telinga-Nya. Baiklah, wanita Kanaan dalam kisah ini kiranya membuka mata kita bahwa Allah tidak pernah bermaksud menolak doa-doa kita.

Kita tahu, wanita dari Kanaan ini adalah bagian dari orang-orang yang terkutuk. Mereka adalah para penyembah berhala yang dibenci Allah. Tetapi Yesus datang ke daerah Kanaan karena wanita ini. Dan Roh Kudus telah mencelikkan mata wanita ini sehingga ia bisa melihat bahwa Yesus adalah Mesias, pengharapan bagi semua umat manusia, yang dapat membebaskan anaknya dari belenggu setan.

Melalui kisah ini kita dapat belajar bahwa ada 3 prinsip penting bagi doa yang berkemenangan.
Pertama, ketekunan. Wanita ini tidak mengenal kata “tidak”. Dia tidak berhenti memohon sampai Yesus meresponi permintaannya. Kita lihat, sebenarnya Yesus diam saja dan tidak mau menjawab permintaan wanita ini. Tetapi wanita ini berada dalam kebutuhan yang amat mendesak – anaknya sedang kerasukan setan. Demi anaknya itu ia berbuat dengan tidak malu-malu di hadapan banyak orang – berteriak-teriak. Ini pasti mengganggu “ketertiban umum”. Bahkan murid-murid Tuhan mulai muak dengan sikapnya. Tetapi karena ketekuannya itulah akhirnya Yesus berpaling kepadanya.

Kedua, percaya. Wanita ini mengakuinya sebagai Tuhan dan Anak Daud – berarti ia mengakui bahwa Dia adalah Mesias yang dijanjikan itu. Lagipula, ia percaya bahwa Anak Daud dapat melakukan segala perkara. Ia pasti datang kepada orang yang tepat untuk dimintai pertolongan. Percaya, itulah inti dari “kenekadannya” mendatangi Yesus. Bila ada keraguan sedikit saja ia pasti akan mengurungkan niatnya untuk menghampiri Yesus.

Ketiga, kerendahan hati. Menarik sekali bila kita cermati perkataan Yesus dengan menyebutnya “anjing”. Bagi kalangan Yahudi, sebutan “anjing” merupakan perkataan yang amat menghina. Ingat ketika Goliat berkata pada Daud, “…. Anjingkah aku, maka engkau mendatangi aku dengan tongkat?” (1 Sam. 17:43). Bahkan dalam PB, orang Yahudi menyebut bangsa non-Yahudi dengan “anjing”, sebab mereka tidak kudus secara rohani dan tidak mengenal Allah yang benar. Tetapi mengapa Yesus memanggilnya dengan sebutan seperti itu? Perkataan Yesus ini bukanlah bermaksud menghinanya di depan umum, tetapi Yesus menggunakan bahasa yang dapat dimengerti oleh orang Yahudi bahwa ia memang termasuk kelompok yang belum mengenal Allah yang benar – yang disebut “anjing” oleh orang Yahudi. Di samping itu, perkataan ini bermaksud menguji, sampai di mana kerendahan hatinya bila Ia menyebutnya seperti itu. Tetapi sekali lagi kita lihat bagaimana wanita ini lulus ujian kerendahan hati. Akhirnya ia menerima jawaban dari permohonannya itu.[sgbi]

 

Ketekunan, percaya, dan kerendahan hati, adalah 3 kunci menuju doa yang berhasil.