Comments are off for this post

Letusan Gunung Berapi

Langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus oleh nyala api (2Petrus 3:10)

Pada 1883, terjadi letusan gunung berapi terbesar dalam sejarah dunia modern. Krakatau, sebuah pulau gunung berapi di kepulauan Indonesia telah melemparkan 24,6 km3 tanah, batu, tumbuh-tumbuhan, binatang, dan manusia hidup-hidup sejauh 38,4 kilometer ke stratosfer. Gelombang pasang besar yang diakibatkannya, tujuh kali mengelilingi dunia, dan reruntuhannya terlempar sampai ke Madagaskar — lebih dari 3.200 kilometer jauhnya!

Pada saat Gunung Krakatau meletus, Kapten Sampson dari kapal Inggris Norham Castle sedang berada di dekat tempat itu. Ia lalu menulis di jurnal kapalnya demikian: “Saya menuliskan ini tanpa dapat melihat karena keadaan yang gelap gulita. Batu apung dan debu terus menghujani kami. Bunyi letusan-letusan ini begitu keras sampai-sampai gendang telinga dari lebih separuh anak buah saya pecah…. Saya yakin Hari Penghakiman telah tiba.”

Sampson percaya bahwa dunia ini sudah hampir berakhir. Letusan gunung itu sesuai dengan yang tertera di 2Petrus 3:10, “Langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus oleh nyala api.” Meskipun letusan Gunung Krakatau itu sangatlah dahsyat, namun letusan itu tidak menandakan akhir dunia ini.

Krisis mampu mengguncangkan kita sehingga keluar dari kenyamanan. Krisis mengingatkan kita bahwa dunia ini bukan rumah kita dan mendorong kita untuk hidup saleh (ayat 11). Bila rasanya dunia pribadi kita seolah-olah akan berakhir, kita harus memusatkan diri untuk hidup dalam kekekalan [rhb]

 

Iman kepada Allah dapat jadikan krisis  suatu pengalaman yang sangat berharga