Comments are off for this post

Makanan Haram?

“Akan tetapi untuk kedua kalinya suara dari sorga berkata kepadaku: Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram! 10  Hal itu terjadi sampai tiga kali, lalu semuanya ditarik kembali ke langit” (Kisah Rasul 11:9-10).

 

KISAH  penglihatan Petrus mengenai makanan haram, sering ditafsirkan sebagai keputusan Tuhan untuk mencabut segala larangan mengenai makanan yang dianggap haram pada masa PL. Padahal, esensi dari ayat tersebut berkaitan dengan “keselamatan” bagi semua bangsa.

Kenajisan di dalam Akitab paling tidak memiliki tiga makna. Makna pertama adalah, kenajisan hati nurani. Perjanjian Lama mengharuskan bangsa Israel untuk kudus. Bergaul dengan bangsa-bangsa lain, digambarkan sebagai percampuran antara yang kudus dengan yang cemar. Makna kedua, kenajisan seremonial memberitakan dosa. Itu sebabnya, sebelum melaksanakan ibadah, orang Israel harus membersihkan tubuh mereka terlebih dahulu. Makna ketiga adalah, kenajisan makanan.

Penglihatan Petrus mengenai berbagai makanan haram, memiliki konteks bahwa, bergaul dengan bangsa-bangsa lain bukanlah lagi menjadi sesuatu yang haram atau najis. Sebab, keselamatan dari Tuhan bukan lagi hanya menjadi milik bangsa Israel saja. Namun, bagaimana bangsa lain dapat diselamatkan, kalau bergaul dengan mereka dianggap najis?

Sebagian orang berkata, “Bukankah penglihatan itu juga memiliki konteks bahwa tidak ada lagi makanan yang haram untuk disantap? Sehingga segala yang menggonggong, yang mencicit, yang mendesis, dan yang menggrok-grok (babi) boleh dimakan?”

Memang, segala jenis makanan tidak lagi dilarang. Kristus telah mencabut segala peraturan imamat mengenai makanan-makanan yang dianggap najis. Kenajisan yang berarti penting secara agamawi, telah bergeser menjadi hanya kenajisan hati nurani.

Tetapi, jangan mencobai dirimu sendiri dengan tidak memiliki pengendalian diri terhadap makanan. Sehingga ketika berbagai penyakit seperti diabetes, asam urat dan kolesterol muncul, engkau tidak dengan serta merta menyalahkan Tuhan. Riset modern menunjukkan bahwa, ada benarnya berbagai larangan makanan dalam Perjanjian Lama. Sebab, berbagai makanan haram itu bisa mendatangkan penyakit. (ns/rhb)

Semua makanan yang disantap menjadi halal kalau disertai  pengendalian diri.

Comments are closed.