No comments yet

Maria Ye Ai Ling, Dari Dunia Hiburan ke Penggembalaan

KESAKSIAN, BETHANY.OR.ID. Sepintas wajahnya tidak jauh berbeda dengan  anak semata wayangnya. Kadang orang menyangka, ibu dan anak itu seperti kakak beradik. Wanita yang dilahirkan di Quan Tian Liao Ning, China, pada Oktober 1962 itu sedikit sekali mengerti bahasa Indonesia. Dialek  orientalnya begitu kental ketika mengungkapkan kisahnya. Sesekali dia menjelaskan pada Adi yang harus menerjemahkannya untuk  media Bethany (tabloid bethany).

Perjalanan hidupnya biasa-biasa saja, sampai saat usianya cukup dewasa yang mendorong Ye Ai Ling untuk belajar di sebuah sekolah kesenian.  Dengan bakat  menyanyinya, dia dapat memenuhi kebutuhan keluarganya. Popularitasnya yang kian menaik, sehingga memunculkan niatnya untuk mengais rejeki di Indonesia.

Pada tahun 2000, Jakarta menjadi kota pertama yang disinggahinya. Dia berpindah-pindah panggung dari tempat hiburan yang satu ke lainnya. Dia tergolong artis yang berhasil. Berikutnya, dia pindah ke Surabaya. Dari hari ke hari keluar masuk Pub untuk menyanyi dan menari.

bersama putrinya okDunia malam dan gemerlap lampu panggung menjadi gantungan hidupnya. Dari profesinya semacam itulah, kebutuhan hidupnya bisa dimiliki, seperti rumah, mobil, dan deposito di China. Meskipun kesemuanya boleh dikata dipunyainya, Ai Ling merasakan dalam hidupnya  masih ada yang kurang. Ada rasa “kosong” di dalam dirinya.

Awal Pertobatan
Kalau ada waktu luang di sela-sela pekerjaannya, Ai Ling memanfaatkannya untuk berjalan-jalan di Mall. Suatu saat, ketika  sedang mencari voucher Pulsa, nampaknya Tuhan mempertemukannya dengan perempuan penjual voucher yang kebetulan bisa berbahasa Mandarin. Dalam percakapan mereka,  Ai Ling menanyakan kepada perempuan itu, di mana tempat berkumpul orang-orang yang biasa berbahasa Mandarin.

Perempuan itu menyarankannya untuk ke lantai dua Hotel Hyatt. Rasa penasaran  membuatnya segera  menuju Hotel itu. Sesampainya di sana, segera menuju sebuah ruangan yang dipenuhi orang dengan hiburan lagu-lagu  mandarin. Namun, begitu masuk ke dalam, Ai Ling menyadari, bahwa orang-orang yang berkumpul itu sedang beribadah. Namun, dia tidak menyurutkan niatnya untuk  tetap saja duduk dan menikmati ibadah tersebut. Dia duduk di deretan kursi yang paling belakang. Menurutnya, dalam hati merasa tertipu.

“Saya kira, tempat itu club untuk perkumpulan orang berbahasa Mandarin.” ujarnya.
Meskipun demikian, pada hari Minggu berikutnya, dia datang lagi ke tempat tersebut. Kali ini Ai Ling duduk pada deretan kursi yang agak di tengah dan bersebelahan dengan keluarga Adi Suhartono.

Melihat orang yang duduk di sebelahnya, Adi segera membuka percakapan. Nampaknya Ai Ling cocok dengan keluarga Adi.
Keakraban itu digunakan oleh keluarga Adi untuk menyampaikan kebenaran firman Allah. Ketika diajak ikut berlibur oleh keluarga Adi ke Bali, di Pulau Dewata itulah hatinya semakin mantap untuk mengenal lebih dalam tentang Yesus. Dia bertobat dan memutuskan untuk menjadi pengikut Yesus. Sampaipun meski di pasir pantai Bali, dia tetap  bersujud untuk bertobat dari cara hidup sebelumnya.

Bahkan muncul keputusan Ai Ling untuk hidup sepenuhnya melayani Tuhan. Tekad yang sempat mengagetkan keluarga Adi. Ketika Adi mengatakan, apakah keputusan itu tidak salah. Sebab,  darimana nantinya akan mendapatkan uang.
“ Tidak menjadi masalah. Burung saja yang di udara dan yang tidak menabur dipeliharaNya, mengapa saya tidak?” begitu jawab Ai Ling. Jawaban itu semakin membuat Adi penasaran. Sebab, seingatnya,  selama itu dia tidak merasa pernah mengajarkan Alkitab kepada perempuan tersebut.

Dalam pengakuannya, Ai Ling menyatakan, bahwa sesungguhnya dia  tidak pernah bisa membaca lama. Paling lama 5 menit. Hal itu disebakan matanya sakit. Akan tetapi, apa yang dideritanya itu ternyata disembuhkan oleh Tuhan Yesus  di saat dia mengikuti ibadah Natal. Menurut kisahnya, waktu itu tiba-tiba dia merasa ada sesuatu yang masuk ke dalam dirinya dan terasa dapat mengisi kekosongan yang ada di dalam dirinya. Firman Tuhan itu tertanam dalam hatinya pada saat membaca Ibrani 13: 5: “ Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: ‘Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” Ayat pertama yang diterimanya pada saat Natal ialah Matius 6:25-26: “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?.”

Dari firman itulah Ai Ling mulai memutar otak. Dia faham, tidak pernah dilihatnya burung yang jatuh karena kelaparan. Dengan demikian, maka dia membulatkan keputusannya.

Saat pertama kali dia beribadah, Ai Ling diberi Alkitab berbahasa Mandarin.  Tetapi dia hanya menyimpannya, karena matanya sakit bila dipakai untuk membaca. Apalagi untuk membaca Alkitab. Tetapi baginya cukup mengherankan, sebab dia mampu membaca Alkitab selama satu jam dan tidak lagi merasakan matanya sakit. Kegembiraannya meledak. Dia Ling berteriak kegirangan dengan bersorak-sorak.

Akhirnya pada Rabu 16 Januari 2002,Ye Ai Ling berpasrah diri untuk dibaptis. Saat itu dia diantar oleh keluarga Adi Suhartono dan pembaptisan dilakukan oleh Pdt. Christ da Costa di Gereja Bethany Nginden.

Memberitakan  Injil
Setelah selama tiga bulan tinggal di rumah keluarga Adi Suhartono, maka ijin tinggalnya dari Ditjen Imigrasi sudah habis dan harus kembali ke China. Sebelum pulang, Ai Ling mengikuti ibadah. Saat itulah Roh Kudus memenuhi dirinya dan mulai bisa berbicara tentang Firman Tuhan. Begitulah, maka ketika dia   berada kembali  di kampung halamannya, Ai Ling mulai memberitakan Injil Keselamatan kepada semua orang yang dijumpainya. Mula-mula keluarganya yang di-injili. Lalu dia bergabung dengan gereja lokal yang ada di tempat kelahirannya, di kabupaten Quan Tian, Provinsi Liao Ning, China. Yang mengherankan, setiap orang yang di-injilinya itu langsung mau ikut ke gereja.

Orang tuanya pun ikut ke gereja. Bahkan Suzana Xie Han, anak tunggalnya itu kemudian jauh-jauh  dibawa dari daratan China hanya untuk dibaptis di Gereja Bethany Indonesia – Nginden pada  13 Februari yang lalu.
Menyiarkan Injil bukan hal yang mudah. Di lingkungan keluarganya sendiri, kakaknya sebagai orang pertama yang menentangnya. Namun hal itu tidak melemahkan imannya.
Saat ini, Maria Ye Ai Ling menjadi wakil gembala di Quan Tian. Maria Ye Ai Ling  aktif dalam mengabarkan Injil Keselamatan kepada banyak orang. Jumlah jemaatnya kian hari kian bertambah. Bahkan pada Natal 2007, jumlah pengikutnya  bertambah menjadi seribu orang yang telah diselamatkan.
“ Pada Natal 2007,  tempat untuk ibadah sudah tidak muat lagi, sehingga saat itu kami harus  menggunakan tenda, sebab ruangan kantor pun tak luput dipenuhi oleh jiwa-jiwa baru” Begitu kata Ai Ling.

Anaknya diberkati Tuhan
Pada suatu ketika, Ai Ling ingin menyumbang sebuah pesawat televisi untuk gerejanya, namun suaminya melarang: “ Jangan pesawat televisi yang baru. Beri saja punya kita yang lama” kata sang suami. Akan tetapi dengan tegas Ai Ling menjawab:  “Memberi kepada Tuhan Yesus itu harus yang terbaik, jangan yang bekas”. Usai memberikan pesawat tv itu, tidak lama kemudian suaminya mendapatkan hadiah sebuah pesawat televisi dari perusahaannya. Kenyataan proses tabur dan tuai. Contoh dari kejadian yang diterimanya itu, ternyata di provinsi Liao Ning ternyata banyak terjadi mujizat.

Keinginan untuk bisa menyekolahkan anaknya harus ditunda, sebab uangnya digunakan untuk pembangunan gerejanya. Namun Ai Ling memiliki iman. Puterinya disuruh mengikuti tes memasuki perguruan tinggi setempat. Dari dua ribu orang yang mengikuti tes tersebut, hanya dua ratus orang saja yang dinyatakan lulus, dan dua puluh orang yang mendapatkan bea siswa. Sekali lagi Tuhan Yesus membuat mujizat bagi putrinya, yakni dari dua puluh orang yang mendapatkan bea siswa itu, salah satunya adalah Suzana Xie Han, sang putri. ‘Terimakasih, Tuhan Yesus” Demikian serunya menutup penuturannya pada Tabloid.  (sumber: tabloid bethany)

Post a comment