Comments are off for this post

MENJADI MENTOR

“Apa yang telah engkau dengar dari padaku …, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain” (2 Timotius 2:2)

Menurut kisah Odyssey yang ditulis oleh Homer, ketika Raja Odysseus berangkat untuk bertempur di perang Troya, ia menitipkan Telemachus, putranya dalam asuhan seorang tua bijak bernama Mentor. Mentor diberi tanggung jawab untuk mengajarkan kebijaksanaan kepada anak muda itu.

Lebih dari 2.000 tahun sesudah Homer, seorang ahli teologi berkebangsaan Perancis yang bernama François Fénelon menyadur kisah tentang Telemachus itu ke dalam sebuah novel yang berjudul Télémaque. Dalam novel itu, sang pengarang menonjolkan tokoh Mentor. Dampaknya lambat laun istilah mentor diartikan sebagai “guru yang bijaksana dan bertanggung jawab”; orang berpengalaman yang tugasnya memberi nasihat, membimbing, mengajar, memberi inspirasi, menegur, mengoreksi, dan menjadi teladan.

Ayat 2 Timotius 2:2 menggambarkan tentang pendampingan rohani ini. Selain itu, Alkitab memberikan banyak contoh pendampingan rohani kepada kita. Timotius meneladan Paulus; Markus meneladan Barnabas; Yosua meneladan Musa; Elisa meneladan Elia.

Namun, bagaimana dengan kehidupan masa kini? Siapa yang akan mengasihi dan bekerja bersama orang-orang kristiani baru? Siapa yang akan mendorong, membimbing, dan menjadi teladan kebenaran bagi mereka? Siapa yang akan bertanggung jawab atas para jemaat untuk membantu membentuk karakter mereka?

Bersediakah kita  menjadi alatNya  untuk menanamkan kebijaksanaan dan menolong orang lain tumbuh dewasa? dr/rhb

Allah mengajar kita, agar kita pun  dapat mengajar orang lain

Comments are closed.