1

NARSISME = Mementingkan Diri Sendiri ?

BETHANY.OR.ID – Narsisme (orang awam sering menyebut ‘narsis’) merupakan ciri kepribadian seseorang dengan sifat egoisme, sombong, angkuh, mementingkan diri sendiri, tidak peduli dengan keadaan orang lain atau lingkungannya.

Kata “narsisisme” berasal dari mitologi Yunani, yaitu tentang  seorang pemuda tampan bernama Narcissus, yang belum pernah melihat bayangannya sendiri. Sementara itu ada seorang peri bernama Echo  yang dikutuk oleh Dewi Hera, yakni untuk selamanya dia hanya bisa berbicara menirukan kata terakhir yang diucapkan oleh lawan bicaranya. Ketika peri Echo melihat Narcissus yang tampan berjalan di hutan, dia ingin bicara kepada pemuda itu. Akan tetapi dikarenakan kutukannya, ia tidak dapat melakukannya. Saat Narcissus merasa haus dan berhenti untuk minum di suatu kolam, dia melihat bayangannya sendiri untuk pertama kalinya, –tapi ia tidak menyadari hal itu–, sehingga ia jatuh cinta dan berusaha berbicara dengan bayangannya tersebut. Ketita ia mengatakan “aku cinta padamu”, peri Echo yang selalu mengikutinya dari jauh, menjawab: “aku cinta padamu”. Namun menurut perkiraan Narcissus, suara itu datang dari bayangannya tersebut. Akhirnya Narcissus terpaku untuk menunggu bayangannya di tepi kolam, yang akhirnya dia berubah menjadi bunga. Begitulah bunga itu diberi nama “Narcissus”.

Menurut Freud, narsisisme merupakan bagian penting yang dimiliki oleh semua orang sejak dari lahir. Hanya saja, pada saat orang tersebut berkembang menjadi dewasa, kadar narsisisme yang sehat akan berkurang dan menjadi seimbang dengan kebutuhan akan hubungannya dengan orang dari jenis lain. Artinya pada saat masih bayi, individu tersebut tidak peduli dengan orang lain maupun lingkungannya. Yang penting, dirinya merasa enak dan puas. Namun setelah berkembang menjadi dewasa, maka kepedulian terhadap diri sendiri dan orang lain atau lingkungannya itu menjadi seimbang. Bila hal itu tidak terjadi, artinya individu tersebut tetap mementingkan diri-sendiri tanpa peduli pada lingkungan atau orang lain, maka hal itulah yang disebut sebagai “gangguan kepribadian narsisisme”. Individu seperti itu menjadikannya frustrasi, karena tidak bisa mencintai orang lain. Yang ada hanya cinta pada diri sendiri. Sejak kecil, biasanya sudah tampak tidak mempunyai rasa empati terhadap sesamanya. Berinteraksi dengan teman-teman pun biasanya tidak langgeng. Berubah-ubah sesuai kemauan penderita.

CIRI-CIRI NARSISME
Campbell dan Foster (2007)  mengumpulkan beberapa literatur dan mendapatkan, bahwa penderita narsisisme mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: Individu tersebut selalu berpikir, bahwa dirinya lebih baik dari orang lain. Cenderung mempunyai pandangan yang berlawanan dengan realitas dan membesar-besarkan masalah. Cenderung membesar-besarkan hal yang menyangkut individu itu sendiri dibanding untuk kesatuan/kebersamaan. Melihat dirinya sebagai orang yang unik dan spesial. Selfish, mementingkan diri sendiri. Berorientasi pada kesuksesan, dengan segala cara, bahkan dengan pendekatan pribadi. Tidak tertarik pada hubungan interpersonal yang hangat dan penuh perhatian.

Hotchkiss menambahkan tentang ciri-ciri penderita narsisisme sebagai: orang yang tidak mempunyai rasa malu, melihat ilusi diri sendiri sebagai orang yang sempurna dengan pikiran terdistorsi, suka menyalahkan dan mempermalukan orang lain, bersikap arogan sebagai kompensasi untuk menutupi kelemahannya, suka iri hati, suka mengeksploitasi orang lain demi ketenaran namanya sendiri. Penderita juga mempunyai harapan yang tidak masuk akal terhadap suatu terapi yang diberikan, karena dirinya merasa sebagai orang spesial yang harus mendapat perhatian lebih, sehingga pada perjalanan terapinya, penderita sering drop out dan pindah dari satu dokter ke dokter lain (disebut shopping doctors). Dalam hubungan dengan sesama (pertemanan) biasanya buruk, tidak pernah mempunyai teman akrab, karena penderita hanya mau enak dan menangnya sendiri tanpa memikirkan kepentingan dan perasaan temannya. Hal ini berakibat penderita sering berganti-ganti teman, namun tidak pernah ada yang cocok.

Dengan berkembangnya Ilmu Psikiatri, maka istilah narsisisme digunakan dalam beberapa keadaan. Misalnya Havelock Ellis (1898), seorang seksolog Inggris, menghubungkan istilah “narcisism-like” dengan gangguan seksual, yaitu dengan cara masturbasi berlebihan, di mana seseorang yang menjadikan dirinya sendiri sebagai obyek seks. Sementara Otto Rank (1911) dalam paparan ilmiahnya  psikoanalisa (psycho-analyses paper) berpendapat, bahwa narsisisme adalah suatu kesombongan dan kekaguman terhadap diri sendiri.

Apa benar sifat narsisime diperlukan untuk aktualisasi diri?
Sebenarnya, pada saat awal kehidupan seseorang itu memang perlu sikap narsisisme, karena individu butuh survive. Tanpa sikap mengutamakan kebutuhan sendiri, individu menjadi sulit untuk bertahan hidup. Namun pada perkembangan yang sehat, setelah individu menjadi dewasa dan kebutuhan dasar terpenuhi, maka sikap narsisisme perlahan-lahan mulai beralih dengan memperhatikan kepentingan dan kebutuhan orang-orang di sekitarnya.
Aktualisasi diri dapat dikembangkan dengan tidak harus melalui cara mempertahankan narsisisme secara multlak. Namun dapat dengan cara lain yang lebih seimbang. Sesuai dengan Firman Tuhan, kita perlu mencintai orang lain sebagaimana terhadap diri- sendiri (Matius 22:39). Jadi, fokusnya tidak sentral pada diri-sendiri saja.

PENYEBAB
Yang menjadi penyebab gangguan narsisime umumnya adalah akibat pola asuh dan lingkungan. Meskipun pengaruh biologik juga tidak dapat diabaikan. Pola asuh  yang terlalu ketat dan menekankan kepentingan pribadi di atas segala-galanya, perlakuan tidak adil terhadap anak dan lingkungan yang tidak kondusif, misalnya tradisi hidup individualistik, akan membentuk individu yang cenderung mementingkan diri- sendiri, tanpa ada toleransi terhadap lingkungannya.

Mengenai terapi terhadap penderita gangguan itu tidaklah sederhana, karena di samping obat-obatan anti-depresi atau anti-cemas, dibutuhkan psikoterapi yang mendasar. Perlu pertemuan berulang, untuk mengubah konsep yang ada di pikiran penderita yang sudah melekat mulai dari saat kecil sampai dewasa. Konsep pikir yang menyakini, bahwa dirinya adalah segala-galanya, dan orang yang harus diistimewakan, serta ketidakpedulian kepada orang lain/ lingkungannya perlu diubah. Inilah tantangan yang perlu dijawab oleh para praktisi kesehatan jiwa pada khususnya. Itulah sebabnya, pencegahan dengan cara memberikan pola asuh yang baik, akan lebih bemanfaat daripada mengobati setelah terjadinya gangguan.[as/wic]

Artikel ditulis oleh: Pdm. Dr. Soetjdr soetjipto profilipto, SpKJ    (Diaken Gereja Bethany Nginden)
Dinas: Poliklinik Rumatan Metadon,  Departemen Psikiatri, RSU Dr. Soetomo/ FK UNAIR. Praktek sehari-hari di Barukh Utara XIV No. 86.

Comment(1)

  1. Ellbiah says

    Priligy Paraguay Baclofene Cirrhose Buy Propecia Online cialis Order Accutane Online From Canada

Post a comment