Comments are off for this post

Nyanyian Baru

“Ya Allah, aku hendak menyanyikan nyanyian baru bagi-Mu, dengan gambus sepuluh tali aku hendak bermazmur bagi-Mu” (Mazmur 144:9).

Alkitab banyak berbicara tentang nyanyian baru. Apa arti nyanyian baru?

Pertama, nyanyian baru adalah lagu baru yang Anda naikkan kepada Tuhan, karena keluar dari hati yang baru, setelah Anda diciptakan menjadi makhluk baru di dalam Kristus (2 Kor. 5:17). Dulu, sebelum Anda lahir baru di dalam Kristus, mungkin juga Anda suka menyanyi lagu-lagu rohani. Tapi apa artinya nyanyian itu bagi Tuhan? Bukankah Anda menyanyi hanya dari bibir saja, karena hati Anda masih lama? Tapi setelah Anda dilahirkan kembali dengan hati baru, nyanyian rohani itu menjadi nyanyian yang penuh arti bagi Allah dan Anda sendiri.

Kedua, arti nyanyian baru adalah lagu-lagu baru yang dikarang oleh para komponis Kristen yang diinspirasikan oleh Roh Kudus. Kita lihat, sekarang ini banyak lagu-lagu baru yang ditulis oleh anak-anak Tuhan. Allah memakai mereka untuk merestorasi pujian dan penyembahan dalam gereja Tuhan. Sayangnya, banyak gereja yang tidak atau sulit menerima lagu-lagu baru. Mereka masih suka menyanyikan lagu-lagu lama yang kata mereka lebih “meresap”. Gereja seperti ini tidak mengerti karya Roh Kudus dalam tubuh Kristus. Jujur saja, hanya gereja yang mau menerima restorasi pujian ini yang akan mengalami sukacita yang melimpah ketika mereka memuji Tuhan. Anda merasakannya?

Ketiga, arti nyanyian baru adalah peralatan musik baru yang selalu berkembang. Dalam sejarah umat Allah, bangsa Israel juga mengalami perkembangan dalam peralatan musik. Contohnya adalah pujian yang dilakukan oleh bangsa Israel pada zaman Musa dengan para penyanyi dalam pentahbisan Bait Suci pada zaman Raja Salomo. Kisah dalam Kel. 15 menunjukkan bagaimana pujian muncul secara spontan melalui nyanyian yang ditulis Musa untuk menyatakan syukur karena pembebasan yang Allah lakukan. Hal ini sangat berbeda ketika Salomo mentahbiskan Bait Suci, “Demikian pula para penyanyi orang Lewi semuanya hadir, yakni Asaf, Heman, Yedutun, beserta anak-anak dan saudara-saudaranya. Mereka berdiri di sebelah timur mezbah, berpakaian lenan halus dan dengan ceracap, gambus dan kecapinya, bersama-sama seratus dua puluh imam peniup nafiri. Lalu para peniup nafiri dan para penyanyi itu serentak memperdengarkan paduan suaranya untuk menyanyikan puji-pujian dan syukur kepada TUHAN. Mereka menyaringkan suara dengan nafiri, ceracap dan alat-alat musik sambil memuji TUHAN dengan ucapan: “Sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya…..”” (2 Taw. 5:12, 13). Anda lihat, kalau pada zaman Musa mereka hanya menggunakan rebana untuk memuji Tuhan, tapi pada zaman Salomo peralatan musik mereka telah berkembang menjadi suatu pawai musik yang besar! Zaman sekarang ini juga semakin banyak ragam peralatan musik yang digunakan untuk memuji Tuhan.[rhb]

Lagu baru yang dinyanyikan oleh manusia lama, tidak berbeda dengan seorang pengemis berdaki tebal yang mencoba memakai baju baru.

 

Comments are closed.