No comments yet

Orang Saleh Binasa?

“Adalah baik kalau engkau memegang yang satu, dan juga tidak melepaskan yang lain, karena orang yang takut akan Allah luput dari kedua-duanya” (Pengkhotbah 7:18).

Sekilas, membaca pasal 7 mulai dari ayat 15 ini akan membingungkan kita. Mengapa begitu? Baca saja ayat 15 dan 16, “Dalam hidupku yang sia-sia aku telah melihat segala hal ini: ada orang saleh yang binasa dalam kesalehannya, ada orang fasik yang hidup lama dalam kejahatannya. Janganlah terlalu saleh, janganlah perilakumu terlalu berhikmat; mengapa engkau akan membinasakan dirimu sendiri?”
Timbul pertanyaan dalam diri kita, apakah Salomo menuliskan ayat ini dalam keadaan jiwa yang tidak stabil? Bukankah kita diwajibkan untuk hidup sesaleh mungkin dan sebenar mungkin? Bukankah adalah kerinduan semua orang percaya untuk bisa hidup semakin saleh? Tetapi mengapa ia memberi nasihat yang kontradiksi – menganjurkan pembaca supaya jangan terlalu saleh? Apa-apaan ini?
Tunggu dulu. Anda tentunya tidak menafsirkan ayat ini sepotong-potong. Yang dimaksud oleh Salomo adalah kesalehan yang dapat membinasakan, sesuai dengan pernyataannya pada ayat 16.
Kalau Anda membuka Englishman’s Concordance, kata yang diterjemahkan binasa (bhs. Ibrani: ‘abad) semuanya berpasangan dengan orang fasik, orang berdosa, atau orang-orang yang tidak mengenal Allah. Merekalah yang patut binasa, karena mereka menolak mengenal Allah yang benar. Jadi orang saleh yang bagaimana yang dapat binasa? Yaitu mereka yang tidak hidup dalam kesalehan yang sesuai dengan konteks kebenaran Allah.
Ingat, Alkitab berkata bahwa banyak orang menyangka mereka telah berjalan pada jalan yang lurus, jalan yang benar, jalan yang disangkanya menuju ke surga, tapi ternyata ujungnya menuju maut (Ams.14:12). Orang-orang ini bukanlah orang-orang jahat. Bahkan mungkin mereka lebih fanatik mengikuti kebenaran yang mereka yakini. Tapi kenyataannya? Mereka sedang menuju kebinasaan, karena di luar Yesus tidak ada kesalehan yang dapat menyelamatkan! Seperti pengakuan Pengkhotbah sendiri pada ayat 20, “Sesungguhnya, di bumi tidak ada orang yang saleh: yang berbuat baik dan tak pernah berbuat dosa!” Jelas bukan? Hanya melalui pembasuhan darah Yesus manusia dapat dibenarkan Allah.
Kemudian, Salomo memberikan kalimat kunci lain, “…..karena orang yang takut akan Allah luput dari kedua-duanya” (ay. 18). Bila orang fasik dan orang saleh di luar Kristus sedang menuju kebinasaan, maka mereka yang takut akan Allah yang benar itulah yang akan luput dari kebinasaan.

 

Perbuatan baik tanpa darah Kristus adalah kesia-siaan belaka.

Post a comment