Comments are off for this post

Pdt.Samsudin Simatupang, S.Th: Jatuh Bangun dalam Kehidupan dan Dirikan Gereja

KESAKSIAN,BETHANY.OR.ID-Di kota dingin Pematang Siantar, Sumatera Utara,  sejak lahir 29 September 1954 sampai dengan menjadi dewasa serta bersekolah menengah atas, Samsudin Simatupang harus bekerja sampingan yang dilakukan di pasar kota tersebut, disebabkan kedua orang tuanya berpisah. Menurutnya, kehidupannya dalam lingkungan yang keras, disebabkan oleh segala keterbatasan yang dialami keluarga. Dengan biaya seadanya, dia dapat meninggalkan Pematang Siantar guna melanjutkan pendidikan perguruan tingginya di Sekolah Alkitab Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) dan lulus pada 1983.   Sejak itulah dia melakukan tugas penginjilan selama 2 tahun dengan status sebagai Penginjil. Pada 1985 dia menikah dengan pujaan hatinya, Pdp. Ernawati Widjaja dan tinggal di  kota Surabaya.

Tak lama kemudian, Pdt. Samsudin mengajak isterinya pindah ke Pematang Siantar, berkumpul bersama ibunya. Dia kemudian merintis sebuah gereja dengan jemaat 20 orang, di mana 15 orang dari jumlah jemaat tersebut adalah para janda. Dengan jemaat berjumlah kecil yang terdiri dari kalangan berekonomi lemah, sehingga persembahan yang diterimanya tidak mencukupi untuk menghidupi gerejanya. Untuk kehidupan berkeluarga, Pdt. Simatupang dan isterinya harus melamar pekerjaan untuk menjadi guru Sekolah Dasar Kalam Kudus di  Pematang Siantar.

“Karena pelayanan tak bertumbuh, akhirnya saya putuskan untuk meninggalkan kota kelahiran saya itu dan kembali ke kota Surabaya.” Demikian kesaksiannya untuk menjelaskan mengapa dia dan isterinya kembali ke Surabaya,

Itu berarti, kesemua  karir mengajar di Sekolah Dasar, di Sekolah Alkitab  dan juga gereja yang digembalakannya harus ditinggalkannya.
Karena kepindahan mendadak dan terpaksa tersebut, suami isteri itu sesampainya  di  Surabaya, jelas belum tidak memiliki tempat tinggal sendiri. Keduanya harus menumpang hidup pada rumah orang tua.

Sebagai pendeta, dia tidak tinggal diam. Dia membentuk persekutuan doa. Namun sedihnya, tidak berusia lama dan bubar. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, dia menciptakan lapangan pekerjaan sendiri, yakni  membuat keripik bekicot guna mencukupi kebutuhan sehari-hari.  Terlebih keduanya masih tinggal bersama mertua dan tidak ingin menambah beban orang tua mereka.

Pada 1990, salah seorang Hamba Tuhan dan sekaligus teman kuliahnya sewaktu di Sekolah Alkitab GPPS yang bernama Pdt. Samuel Liu, secara tidak sengaja “menemukan” dia.. Sebab, waktu itu tidak seorangpun yang tahu keberadaannya, sebab Pdt. Samsudin ini seolah sengaja menyembunyikan diri, merasa rendah diri akibat kehidupan dirinya seperti itu. Namun, pertemuan tersebut merubah jalan hidupnya, Pdt. Samuel Liu  mengajaknya untuk mengi-kuti pelayanan di Gereja Bethany Indonesia – Manyar Rejo. Segera saja dia menerima ajakan tersebut, karena berharap hal itu memang bakal merubah nasibnya.

Nasehat Isteri.

Untuk mencapai Gereja Bethany di Jalan Manyar Rejo II, berangkat dan pulang dengan menggunakan jasa angkot yang harus berpindah-pindah jalur (line) tujuan. Setiap  hari dia ke gereja, dan sampailah suatu ketika dengan didampingi Pdt. Samuel bertemu dengan Gembala Sidang, Pdt. Abraham Alex Tanuseputra. Dalam pertemuan singkat , sahabatnya itu memperkenalkan dirinya kepada Gembala Sidang tersebut.

“‘Pak Alex, ini  teman saya satu Sekolah Alkitab yang ingin melayani di sini’.” kata sahabatnya itu. Jawaban singkat yang diterimanya: “Ya sudah, melayani saja!’.

Dari jawaban demikian, maka setiap harinya selama tiga bulan datang ke gereja dengan harapan tinggi tetapi ketidak-jelasan statusnya. Datang ke gereja dan tanpa mengerjakan sesuatupun. Akibatnya, guna mengisi waktu itu, dia selalu bertandang ke toko buku milik Bethany yang bersebelahan dengan gereja. Hampir semua buku yang dijual di sana dibacanya. Dia merasa, seolah ke gereja itu hanya sekedar ‘setor muka’.

Setelah tiga bulan tanpa kejelasan dan pendapatan apapun, membuatnya frustasi karena ketidak pastian tersebut. Kondisi perasaan dan keuangannya akibat “setor muka” seperti itu dijelaskan kepada isterinya. Dia ingin menyudahi langkahnya tersebut. Akan tetapi, sang  isteri justru memberinya semangat agar tidak putus harapan, dan  mencoba lagi ke gereja. Malahan Pdp. Ernawati berpesan, agar dia terlebih dahulu berdoa sebelum  melangkahkan kaki ke gereja, dengan harapan bila sesampainya di sana, dapat bertemu dengan Gembala, sehingga dia diijinkan Tuhan untuk  melayani di Gereja Bethany Indonesia–Manyar Rejo. Dalam hatinya,  apabila sesampai di gereja pada hari itu tidak menjumpainya, maka dia akan  menyudahi pelayanan di Gereja Bethany itu.

“Dengan semangat baru pada keesokan harinya, saya melangkah menuju gereja.” kenangnya,dan dilanjutkan:  “Sesampai di pintu gerbang gereja, saya melihat bapak Gembala keluar dari kantornya dan langsung saya menyapanya serta bertanya: ‘Oom, saya ingin berbicara sebentar. Apa ada waktu?’  Jawabnya bersifat pertanyaan: ‘Ada keperluan apa ya?’ Saya katakan:  “Saya tiga bulan yang lalu dibawa oleh Pdt. Samuel Liu dan bertemu dengan bapak, dan sudah tiga bulan ini saya terus datang ke gereja”. Mendengar penjelasannya itu, Pdt. Alex membawanya menuju kantor Pdt. Yusak. Di situ dia mendapatkan pengarahan, antara lain tentang dalam melayani  jangan memiliki motivasi apa-apa, layani saja, maka Tuhan pasti memberkati.

“Kata-kata itu yang membuat hati saya tidak lagi patah semangat, meskipun sebulan kemudian saya juga belum menerima apa-apa (persembahan) dari gereja.” katanya.  Namun, tak lama kemudian  Pdt. Samsudin Simatupang. resmi menjadi salah seorang Hamba Tuhan di Gereja Bethany Indonesia-Manyar Rejo.  Tugasnya antara lain melakukan piket jadual sore hari, antara lain menunggui telepon dan melayani konseling.

Jatuh Bangun Bina Gereja.

Setelah dua tahun menjadi pemberi  layanan penuh di Gereja Bethany, maka pada 1992 dia   dipercaya untuk menggembalakan jemaat di kota kecamatan Tanggul, kabupaten Jember. Akan tetapi harus diakuinya, bahwa misi yang diembannya itu gagal, sehingga  tidak lama di sana, lalu dengan rasa malu harus kembali ke Gereja Bethany di Manyar Rejo. Katanya, setiap Gembala Gereja berkotbah, pernah menyindir dirinya dengan istilah ‘balik kucing’.

“Akan tetapi saya tidak patah semangat dan terus belajar.” katanya mengingat kegagalannya itu: “Sehingga pada suatu saat, saya berjumpa dengan Bapak Kuncoro, bendahara Gereja, saya membuka sebuah persekutuan doa di Pandaan, dirumah beliau.”
Di tempat itulah dia diperkenalkan dengan beberapa umat.  Akhirnya mereka memutuskan untuk membuka persekutuan doa di rumah seseorang bernama Kuncoro yang tinggal di Pandaan, kabupaten Pasuruan, pada jalur jalan raya Surabaya –Malang.  Setelah berlangsung beberapa kali, mereka mendesak untuk juga dilakukan ibadah pada hari Minggu. Dengan demikian, maka Pdt. Samsudin bersama para jemaatnya membuka  ibadah hari Minggu.

Kisah tentang persekutuan doa itu sebelum berkembang menjadi ibadah Minggu, menurut-nya diawali dengan pembukaan persekutuan doa di rumah makan Porong pada 1996. Akan tetapi, dikarenakan yang diresmikan terlebih dahulu yang berada di Pandaan,  maka persekutuan doa yang ada di restoran Porong itu dipindahkannya menjadi satu di Pandaan. Termasuk disebabkan imbas dari luberan lumpur “Lapindo”.

Kini Gereja Bethany Indonesia – Pandaan itu berumur lebih dari 10 tahun.
“Sewaktu saya merintis persekutuan doa dan kemudian menjadikannya sebuah gereja, saya masih terikat sebagai fulltimer di Gereja Bethany Indonesia – Manyar Rejo, sampai akhirnya saya dipanggil bapak Gembala Sidang untuk tinggal dan berkonsentrasi sepenuhnya di sana, meskipun waktu itu masih menerima persembahan dari gereja hampir satu tahun.” Demikian tuturnya. Meskipun akhirnya dia memutuskan untuk berkonsentrasi penuh di Pandaan.

Namun di kota kecamatan Pandaan itu pada awal pelaksanaannya tidak semulus yang diperkirakannya. Dia dan jemaatnya menghadapi banyak demonstrasi yang menentang pengadaan persekutuan doa dan gereja. Akibatnya, pelaksanaan ibadah harus berpindah-pindah dari tempat satu keluarga ke keluarga lainnya.Dan dari satu tempat ke tempat lainnya

Di tahun 2004, ada informasi, bahwa sebuah ruko di area Terminal Pandaan dijual. Tanpa menunggu lama, dia menghubungi pemiliknya yang berdomisili di Jakarta. Meskipun pada saat itu disebabkan tempat beribadah yang berpindah-pindah, menjadikan banyak  jemaat yang tidak bisa menerima keadaan semacam itu dan akhirnya tidak lagi mengikuti ibadah di persekutuan doa yang diadakannya.  Sampai pada akhirnya ketika ruko yang ditawarkan dengan harga 200 juta rupiah, disebabkan kondisi keuangan yang minim, dia menawar dengan harga yang cukup rendah, kurang lebih 80 juta rupiah. Hasil itu, dikarenakan kondisi ruko yang sangat tidak layak. Melalui tawar-menawar, akhirnya terbeli seharga 115 juta.

Kepada jemaatnya dikatakan, bahwa gereja hanya memiliki dana sebesar Rp. 30 juta. Namun, terdapat sejumlah 15 orang jemaat yang merasakan beban perlunya untuk memiliki tempat ibadah yang permanen, sehingga mereka menutup kekurangan dana tersebut. Begitulah ruko itu dibeli dan direnovasi. Disusul kemudian Pdt. Samsudin Simatupang berikut jemaatnya mendapatkan ijin guna menyelenggarakan ibadah di tempat itu dari Departemen Agama dan Pembimas Kristen serta  BAMAG, sekaligus surat pengabsahan dari Sinode Gereja Bethany Indonesia dan KUA Kabupaten Pasuruan.

“Sampai hari ini kami terus bisa menyelenggarakan ibadah dengan tenang di Pandaan.” ujarnya mengakhiri kisah kesaksian tentang jatuh dan bangunnya dalam kehidupan berkeluarga dan membina gereja. (sumber:tab.bethany/ js/as/wic)

Comments are closed.