Comments are off for this post

Pemilihan Allah

“Sebab TUHAN telah memilih Yakub bagi-Nya, Israel menjadi milik kesayangan-Nya” (Mazmur 135:4).

Kata memilih, secara teologis mengandung arti yang sangat penting. Kata Yunaninya adalah eklego. Kata ini dipakai, misalnya pada ayat “Sebab di dalam Dia Allah telah MEMILIH kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya” (Ef. 1:4). Konsep predestinasi (penentuan sejak awal) adalah konsep keselamatan menurut kebenaran Alkitab. Bagaimana Allah dapat memilih kita, bahkan sebelum dunia dijadikan untuk menjadi milik-Nya? Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak terpilih? Bukankah mereka pasti akan binasa?

Untuk mengerti hal ini kita harus tahu bahwa kata pemilihan ini tidak dapat diartikan menurut pengertian kita. Masalahnya adalah kita hidup dalam dimensi waktu, sedangkan Allah tidak berdiam dalam dimensi waktu. Ia tahu segala sesuatu dari kekal sampai kekal. Jadi seluruh kehidupan kita mulai dari bayi sampai kita mati, semuanya tercatat dalam pikiran Allah. Dalam kekekalan Ia tahu siapa saja manusia yang akan menerima dan siapa yang akan menolak keselamatan di dalam Yesus. Jadi ini menyangkut kehendak bebas manusia itu sendiri. Firman Tuhan berkata, “…..sebab Allah dari mulanya telah MEMILIH kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu PERCAYAI” (2 Tes. 2:13).

Jangan terkecoh dengan urutan kalimat. Kalau kita terpaku pada urutan kalimat, seolah-olah Allah terlebih dahulu memilih kita lalu kehendak bebas kita tidak ada artinya. Bukan, bukan itu maksudnya. Yang benar adalah Allah memilih kita SETELAH kita menentukan pilihan dengan memilih kebenaran itu.

Pikirkan mengenai ke-12 murid yang Yesus pilih. Apakah Allah memasukkan Yudas sebagai salah satu murid Tuhan supaya ia mengkhianati Yesus? Atau lebih tepatnya supaya semua yang tertulis di Alkitab digenapi? Apakah Allah bermaksud menjadikan Yudas sebagai “kambing hitam” dalam tragedi penyaliban Anak Manusia? Kalau memang demikian berarti Ia bukanlah Allah yang adil. Saya yakin, Yudas akan protes berat kepada Allah pada saat ia diadili pada akhir zaman! Bukan, sekali lagi bukan itu maksudnya! Yang benar adalah Yudas telah memilih dari kehendaknya sendiri untuk mengkhianati Gurunya. Tapi di dalam kekekalan Allah tahu semua kisah ini. Tidak heran bila dikatakan bahwa “….Ia [Yesus] TAHU, siapa yang akan menyerahkan Dia…..” (Yoh. 13:11). Apakah Yesus mengetahui pengkhianatan Yudas baru beberapa hari atau minggu yang lalu setelah kejadian? Tidak! YESUS TAHU SEJAK DAHULU KALA – SEJAK KEKAL![rhb]

Allah menyediakan keselamatan, tapi manusia berhak menerima atau menolaknya (resiko ditanggung sendiri).

 

Comments are closed.