Comments are off for this post

Pendorong Sifat Individualis

BETHANY.OR.ID-Individualisme merupakan suatu falsafah yang ditinjau dari sudut pandang moral, politik atau sosial, yang pada intinya menekankan kemerdekaan manusia serta kepentingan dalam pertanggungjawaban dan kebebasan diri-sendiri (individual). Seorang individualis akan selalu berupaya mencapai kebutuhan dan kehendak pribadi. Mereka menentang campur tangan luar, baik dari masyarakat, negara atau institusi atas pilihan pribadi mereka itu. Oleh karena itu, orang yang bersifat individualistis selalu menentang segala pendapat yang meletakkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadinya. Mereka bahkan lebih mengutamakan kepentingan pribadi daripada kepentingan orang lain. Seorang individualis juga kurang senang terhadap segala standar moral atau aturan yang dikenakan padanya, karena peraturan-peraturan itu dianggap menghalangi kebebasan dirinya.

Mereka percaya, bahwa seorang individualis tidak perlu terikat pada tatanan moral yang digunakan oleh masyarakat, sebab mereka merasa bebas untuk mementingkan diri sendiri.

Data tentang individualisme di Indonesia memang belum ada. Akan tetapi, dari survey di negara-negara Asia yang lain menggambarkan, bahwa individualisme mulai melanda negara-negara Asia, di mana sebelumnya tidak pernah terjadi seperti itu. Salah satunya, survey yang dilakukan di Korea oleh LG Economic Research Institute pada bulan Juni yang lalu terhadap 1.800 orang partisipan, didapatkan, bahwa 36,4% responden memprioritaskan individualitas ketimbang organisasi/komunitas, 36,8% mengatakan mereka tidak setuju apabila tindakan atau aksi yang dilakukan untuk publik harus memberi batasan atau melanggar hak pribadi seseorang.

Seiring dengan perkembangan jaman, beberapa pandangan menyatakan, bahwa sikap indivi-dualis di antara masyarakat kita semakin hari semakin tinggi. Dan tak bisa dipungkiri hal tersebut juga terjadi di tengah-tengah umat Kristiani, baik di perkotaan maupun daerah, yang mungkin bahasa Alkitab barangkali disebut sebagai sikap mementingkan diri sendiri. Dampaknya kotbah-kotbah yang didengar dalam setiap ibadah, seringkali tanpa sadar diejawantahkan untuk kepentingan diri sendiri.

Faktor-faktor Penyebab

Terdapat beberapa faktor penye-bab atau yang mempengaruhi sifat seseorang, mengapa dia menjadi Individualis.

Faktor yang pertama; adalah genetik. Pada dasarnya sikap atau karakter seseorang itu tercetak (imprint) pada gen dalam khro-mosom tertentu di tubuh manusia. Pada saat terjadi proses pembuahan (regenerasi), maka gen tersebut dapat melekat dan ikut masuk dalam tubuh generasi berikutnya. Memang sifat ini tidak selalu muncul begitu saja, namun tergantung faktor lain, yang juga berpengaruh.

Faktor kedua; adalah teori perkembangan. Dikatakan pada anak umur 0 sampai dengan 18 bulan adalah masa-masa yang menentukan, apakah seorang anak nantinya punya rasa percaya pada lingkungannya atau tidak. Fase ini oleh Erik Erikson disebut sebagai fase Trust vs Mistrust (percaya vs tidak percaya). Begitu bayi lahir dan kontak dengan dunia luar , maka ia mutlak tergantung pada orang lain.

Rasa aman dan rasa percaya pada lingkungan merupakan kebutuhan. Alat yang digunakan bayi untuk berhubungan dengan dunia luar adalah mulut dan panca indera. Sedangkan perantara yang tepat antara bayi dengan lingkungan ialah ibu. Hubungan ibu dan anak yang harmonis, yaitu melalui pemenuhan kebutuhan fisik, psikologis dan sosial, merupakan pengalaman dasar rasa percaya bagi anak. Sebaliknya, rasa tidak percaya itu akan timbul bila pengalaman untuk meningkatkan rasa percaya kurang atau kebutuhan dasar tidak terpenuhi secara adekuat, yaitu kurangnya pemenuhan kebutuhan fisik, psikologis dan sosial. Misalnya, anak tidak mendapat minuman atau air susu yang edekuat ketika ia lapar, tidak mendapat respon ketika ia menangis dan sebagainya. Kegagalan dalam mengembangkan kepercayaan akan menghasilkan ketakutan dan kepercayaan, bahwa dunia tidak konsisten dan tidak dapat ditebaknya. Bila hal itu terjadi, maka saat dewasa anak tersebut akan menjadi orang yang tidak bisa mempercayai orang lain, sehingga mendorongnya menjadi seorang individualis.

Pola asuh juga merupakan faktor penyebab terjadinya sikap individualis. Seorang anak yang melihat perilaku orangtuanya yang selalu mementingkan diri sendiri, tidak pernah mau membantu orang lain, bahkan tidak peduli dengan kebutuhan anak, akan menyebabkan anak juga meniru perilaku tersebut. Sebenarnya perilaku pola asuh ini juga berkaitan erat dengan faktor teori perkembangan, di mana orang tua tidak memberikan pemenuhan kebutuhan rasa aman dan rasa percaya anak terhadap lingkungannya, sehingga ia harus berjuang sendiri untuk dapat bertahan pada posisinya, yang berakibat dia harus mengutamakan kepentingan pribadinya lebih dahulu. Hal ini biasanya juga diperberat oleh hubungan antar orang tua yang kurang harmonis, sering bertengkar, saling melecehkan dan tidak akur.

Faktor berikutnya; adalah masalah sosial. Individualisme terjadi karena kesenjangan sosial yang semakin diperburuk dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan. Keluarga atau pribadi demi pribadi sudah semakin sulit untuk meme-nuhi kebutuhan (bahkan keinginan) seluruh keluarga, sehingga akhirnya setiap individu dalam masyarakat berusaha dengan susah payah untuk mempertahankan kehidupan masing – masing. Akibatnya, setiap individu lebih sibuk dengan urusan masing – masing dan menggeser nilai – nilai kesatuan dalam bermasyarakat. Terlebih bila individu tersebut berasal dari keluarga yang selalu mengagung-agungkan kekayaan dan materi, sehingga segala aktivitas akan selalu diperhitungkan dengan nilai materi, berapa keuntungan yang akan didapat bila mereka melakukan aktivitas tertentu. Akibatnya, undangan pertemuan di antara sesama anak Tuhan menjadi tidak dipedulikan. Undangan dari RT/ RWpun diabaikan, karena dianggapnya bahwa selama semua itu tidak mendatangkan keuntungan pribadinya. Dan masih ada faktor lain yang mungkin dapat menyebabkan seseorang mempunyai sikap individualis.

 

Upaya Mengatasi Individualisme.

Lalu bagaimana cara menga-tasinya? Ada beberapa saran untuk mengatasi sikap individualistis.

Yang pertama; adalah pelajaran budi pekerti di sekolah, yang selama ini sudah banyak ditinggalkan. Pelajaran ini mampu membuat seseorang menjadi lebih peduli terhadap lingkungan dan sesamanya apabila diterapkan sejak kecil.

Yang kedua; adalah dengan cara introspeksi diri yang dilakukan setiap hari. Setiap individu meninjau kembali (flash back) atas perilaku selama seharian, mana yang baik dan mana yang buruk. Kemudian, apabila sudah menyadari akan kekeliruan/kesalahannya, maka berusaha untuk mengubahnya menjadi perilaku yang baik. Masalahnya, ukuran baik dan buruk di situ sangat subyektif, yakni tergantung pada siapa yang melakukan dan nilai-nilai yang diyakininya.

Ada juga yang mengatakan, bahwa psikoterapi cara Gestalt yang dimodifikasi, dapat memper-baiki sikap individualis. Cara ini menekankan tanggung jawab pribadi, dan berfokus pada pengalaman individu pada saat kini, hubungan terapis-klien, lingkungan dan kehidupan sosial dari kehidupan seseorang.

Kembali kepada ajaran Tuhan Yesus: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat.22:39) merupakan cara yang ideal saat ini. Dengan kasih yang Ilahi kita diajarkan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Artinya, kita diajar untuk berempati terhadap sesama manusia.

Bila ada sesama yang menderita, akan segera ada yang menolong. Bila ada sesama yang lapar, maka akan ada yang segera memberi makan. Apa bila ada sesama yang sakit, akan ada yang segera mengobati, dan seterusnya. Betapa indahnya dunia ini kalau orang-orang yang bersifat individualistis sudah berubah menjadi sifat untuk saling mengasihi dan menyayangi di antara sesama manusia. (*)

dr soetjipto profilArtikel ditulis oleh: Pdm. Dr. Soetjipto, SpKJ    (Diaken Gereja Bethany Nginden) Dinas: Poliklinik Rumatan Metadon,  Departemen Psikiatri, RSU Dr. Soetomo/ FK UNAIR. Praktek sehari-hari di Barukh Utara XIV No. 86.