2

Mengenal Gereja Bethany Pasar Legi Solo Jawa Tengah

BETHANY.OR.ID -Pasar Legi di kota Solo, sudah tidak asing buat para pendatang setia ke “kota nasi liwet” itu. Seperti kondangnya nama pasar-pasar tradisional di kota tersebut, antara lain Pasar Gede, Pasar Pon, Pasar Kliwon, demikian pula nama Pasar Legi.
Begitu pula bagi jemaat Gereja Bethany Indonesia yang bermukim di Solo atau kota-kota sekitarnya, maka gereja yang di Jalan Lumban Tobing yang masuk kecamatan Pasar Legi tersebut menjadi terkenal. Bukan sekedar bangunannya, namun juga kisah atau sejarahnya yang bisa menjadi perhatian.

Keberadaan Gereja Bethany Indonesia-Solo sebenarnya diawali pada 2 Mei 1988. Saat itu masih tergabung dengan Sinode Bethel. Pdt. Freddy Z. Riva yang diberi tugas untuk menjadi penggembala gereja di kota itu. Sejak awal saja sudah menjadi besar. Dengan menempati sebidang tanah untuk bangunan yang mampu menampung 1000 jemaat dan bersebelahan dengan lokasi Universitas Negeri Sebelas Maret, merupakan awal berdirinya gereja. Akan tetapi, ketidak sesuaian dengan sesama pendeta di tempat itu, maka Pdt. Freddy Z. Riva keluar dan pada 1990  mendirikan Gereja Bethany di Solo Baru, kota satelit yang menempel di bagian selatan kota Solo.

Ketika gerejanya di Solo Baru sudah berkembang, maka Pdt. Freddy Z. Riva mendirikan cabang untuk di dalam kota Solo. Saat itu belum ada gerejanya, sehingga pelaksanaan ibadah raya selalu diadakan di Hotel Sahid dengan jam tertentu, yakni pukul 9.30. Sedangkan sebuah gedung besar yang terletak di Jalan Lumban Tobing, kawasan Pasar Legi, dibeli dan digunakan untuk kantor sekretariat, doa malam maupun kegiatan lainnya.

Perkembangan jumlah jemaat yang terus meningkat, menjadikan Gembala Gereja itu kemudian memusatkan pengembangan gedung di Pasar Legi. Pada 15 Januari 1998, kegiatan ibadah di Hotel Sahid ditiadakan karena harus menyewa, dan gereja di Solo Baru ditutup, untuk dipindahkan pula ke bangunan lama di Pasar Legi.

Jumlah jemaat yang bertambah terus, menjadikan fasilitas gedung itu tidak mencukupi. Bangunan itu harus diganti dengan bangunan gereja. Mulai tahun 2002, diawalilah pembangunan gereja di tempat itu diatas tanah seluas 5000 meter persegi. Diawali dengan bangunan modern yang “mengepung” bangunan lama, dan pada akhirnya gedung lama itu dibongkar setelah bangunan baru terbangun keseluruhannya pada 2007 lalu.

Di bangunan besar dengan halaman parkir mobil yang cukup luas, Pdt. Freddy Z. Riva membangun playground untuk anak-anak balita yang ditempatkan di sebelah gereja. Ruang perkantorannya ditempatkan di lantai dasar (basement), ruangan untuk latihan musik dan studio rekaman. Sedangkan gerejanya/ruang ibadah dengan ukuran 25 kali 25 meter itu mampu menampung 1000 jemaat atau maksimal 1200 jemaat. Berbagai fasilitas pendukung ditempatkan di ruangan-ruangan, seperti Ruang Nursery untuk perawatan balita, poliklinik untuk umum, terutama pemukim di sekitar Pasar Legi dengan pelayanan mulai pukul 8 pagi hingga sore, dan fasilitas lainnya.

Khusus tentang Gembala Gereja yang punya hobby menelusuri pedesaan, terutama di kawasan Gunung Kidul, digunakannya sepeda motor jenis trail yang mampu memasuki pedesaan yang tak bisa dilalui kendaraan roda empat. Di pedesaan itulah Pdt.  Freddy Z Riva melakukan layanan.
Dalam khotbahnya (1/2/2008), Pdt Fredy Z Riva menguraikan Roma 8:26 Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.

Berdasarkan ayat tersebut ia mengemukakan tiga hal yang perlu diperhatikan orang Kristen.  Pertama, doa merupakan nafas bagi setiap orang Kristen. Segala sesuatu harus dimulai dengan doa. Karenanya setiap orang percaya mesti menyembah dan berdoa dalam roh dan kebenaran sebab keduanya tidak dapat dipisahkan, sebab hal itu akan menghasilkan kebenaran.

Lalu pada point yang  kedua, ia menyatakan mengenai Kebebasan dalam penyembahan. Menurut Gembala Sidang Bethany Pasarlegi,  penyembahan itu tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Kebebasan dalam penyembahan membebaskan kita dari segala intimidasi.
Mencuplik Yohanes 8:32, ia berkata, bahwa kebenaran akan membawa kita kepada kemerdekaan,  sehingga kita berani untuk mendekat kepada Allah Bapa.

Kemudian pada poin terkahir, ia menyatakan tentang upah dari doa. Mencuplik,  Matius 6:5, ia menegaskan, sebenarnya saat kita berdoa, kita sudah mendapatkan upah. Tetapi karena apa yang kita perbuat itu tidak berkenan dimata Allah maka upah itu sampai disitu aja. Oleh sebab itu kita harus memelihara hati kita, sebab segala sesuatu timbul dari dalam hati kita.  Dalam ajakannya pada akhir khotbah ia menyatakan  supaya jemaat memperbaiki kehidupan doa menyongsong masa penuaian. (sumber:tab.bethany-169/wic)

Comments(2)

  1. Anonymous says

    vD93aA https://www.genericpharmacydrug.com

  2. Arry Sumarwata says

    Yth Bpk Pdt Freddy Z Riva,
    Salam hormat dan Salam Sejahtera dlm Kasih Yesus.
    Nama saya Arry Sumarwata, anggota majelis gereja SBI (Sidang Baptis Indonesia) di Melbourne, Australia.
    Beberapa lama ini saya berusaha untuk menolong keponakan laki2 yg tinggal di Jl Srigunting 2 Solo untuk mengenal Tuhan Yesus.
    Dia sangat tertarik dan terbuka hatinya untuk belajar lebih dlm. Mohon bantuan Bapak untuk mengirim seseorang untuk menghubunginya atau melawat serta menjangkaunya.
    Terima Kasih atas perhatian dan kesediaanya.
    Bilamana ada yg tergerak hatinya untuk membatu saya, mohon Nama nya untuk saya perkenalankan padanya sebagai teman saya agar dia bisa lebih terbuka.
    Tuhan memberkati,
    Arry
    +61402343689

Post a comment