Comments are off for this post

Pentahbisan Gembala Sidang Gereja Bethany Indonesia Nginden Surabaya

KALEIDOSKOP, BETHANY.OR.ID-“Sekaranglah sudah waktunya. Sebab selama 15 tahun terakhir ini saya berdoa, siapa yang akan mau menggantikannya.  Namanya bukan lagi Aswin Tanusepura, tetapi David Aswin Tanuseputra.” Demikian ucapan singkat Ketua Dewan Rasuli Sinode Gereja Bethany, Pdt. Abraham Alex Tanuseputra, ketika mentahbiskan Pdt. Aswin Tanuseputra sebagai Gembala Sidang Gereja Bethany Nginden dan Cabang-cabangnya di hadapan Dewan Rasuli Gereja Bethany dan MPS (Majelis Pekerja Sinode), serta ribuan jemaat di Graha Bethany Nginden Surabaya pada 12 Juli 2012.

Pdt. Abraham Alex Tanuseputra kemudian melepas jubah dan stola yang dikenakannya, lalu mengenakannya pada Pdt. David Aswin Tanuseputra, sebagai tanda diserahkannya tugas dan tanggung jawab penggembalaan di Gereja Bethany Nginden Surabaya dan Cabang-cabangnya.  Walaupun demikian,  menurut  Pdt. Abraham, dia akan tetap berada di belakang guna mendukung pelayanan yang dilakukan oleh  Pdt. David Aswin Tanuseputra, juga tetap aktif sebagai Ketua Dewan Rasuli Sinode Gereja Bethany Indonesia.

Sementara itu, Pdt.Jusufroni yang ikut hadir selaku pembicara, menyatakan: “…..yang terpenting, apa yang dilakukan Pdt. Abraham Alex Tanuseputra adalah memang suara Tuhan, waktu Tuhan dan kehendak Tuhan.” Dilanjutkannya: “ Kalau tongkat komando (serah terima gembala sidang; red.)  itu diberikan, itu tandanya organisasi gereja sehat.”

Dengan pentahbisan gembala sidang yang baru, sejak  hari itu Gereja Bethany Nginden dan Cabang-cabangnya memasuki babak  baru.
Acara yang diadakan bersamaan dengan “Ibadah Doa Malam”  tersebut berlangsung dengan hikmat dan dihadiri oleh seluruh pendeta Sinode Gereja Bethany Korda Surabaya yang berpakaian full dress.

Mengenai latar belakang bagaimana Pdt. Abraham menyerahkan tanggung jawab penggembalaan kepada putra keduanya itu, dipaparkannya, bahwa sewaktu berada di Gereja Bethany  Manado usai pentahbisan Gereja Bethany di Provinsi Sulawesi Utara itu,  Pendeta yang juga  disebut sebagai Bapak Bethany itu yang rencananya akan mengurapi 20 Pendeta setempat, namun ternyata yang maju  ke hadapannya adalah  3000 orang jemaat, pada dia harus melayani mereka seorang demi seorang.

“Hadirat Tuhan luar biasa! Semula hanya sekitar 20 orang saja yang hendak saya urapi, tetapi yang maju justru 3000 orang. Lawatan yang kuat itu saya rasakan sampaipun saya hendak kembali ke Surabaya. Hingga di dalam pesawat pun, saya mendapat suatu pernyataan: ‘Sebelum Daud meninggal, Salomo ditunjuk untuk menggantikannya seperti tertulis dalam I Raja-raja 2:1-4.’ Jadi,  saya pikir, saya disuruh kotbah tentang Daud dan Salomo. Setelah beberapa saat berdoa, ternyata saya baru mengerti, bahwa saya harus seperti Daud yang menunjuk Salomo untuk menggantikannya. Lalu saya bertanya, Salomonya siapa? Saya pikir hamba Tuhan yang mampu mengatur dan bisa berkotbah! Tetapi, ketika saya bertanya lagi, ‘Salomo siapa?’  Suara Tuhan jelas: Itu di sebelahmu! Pada hal, yang duduk bersebelahan dengan saya ialah Aswin. Saat itu juga saya berbicara langsung  kepadanya, bahwa saya disuruh Tuhan untuk memilihnya. Dengan berbagai alasan dia menolak, sebab merasa tidak mampu. Tetapi saya katakan, Tuhan memang memilih yang tidak mampu agar bisa dipakaiNya.” Demikian Pdt. Abraham Alex Tanuseputra menceritakan asal mula dipilihnya Pdt. David Aswin Tanuseputra, anak keduanya, untuk menggantikan dirinya. (wic)

Comments are closed.