No comments yet

Percakapan Sia-sia

… demikian pula percakapan bodoh disebabkan oleh banyak perkataan” (Pengkhotbah 5:2).

Suatu kali dalam sebuah pesawat yang sedang mengudara, seorang wanita Yahudi setengah baya duduk bersebelahan dengan seorang wanita gemuk berkebangsaan Swedia. Wanita Yahudi ini terus memandanginya, sementara wanita Swedia yang terus dipandangi merasa heran, namun mendiamkan saja.
Tak lama wanita Yahudi itu memecahkan keheningan dengan bertanya, ”Maaf, apakah anda seorang Yahudi?”
Dengan datar wanita Swedia itu menjawab, ”Bukan.” Lalu keduanya berdiam diri lagi.
Namun setelah beberapa menit ia berpaling lagi kepadanya dan berkata, “ Anda bisa saja berkata bahwa anda bukan orang Yahudi. Tapi, anda seorang Yahudi, bukan?”
Dengan nada yang agak meninggi karena kesal wanita Swedia itu menjawab, “Jelas-jelas aku bukan Yahudi!”
Si penanya terdiam sejenak sambil terus mengamati hingga yang diamatinya merasa rikuh. Beberapa menit kemudian, si wanita tua berkata lagi, “Saya bisa memastikan bahwa anda adalah orang Yahudi, walaupun anda tidak mengakuinya.”
Karena tidak tahan dengan gangguan itu, si wanita Swedia itu pun berkata, “OK, saya memang orang Yahudi!”
Dengan kalem si wanita Yahudi berkomentar sambil menggelengkan kepalanya, “Anda memang tidak mirip orang Yahudi.”
Kalau saat itu Anda yang “menjadi” wanita Swedia dan bertemu dengan wanita Yahudi itu, bagaimana perasaan Anda? Pasti heran bercampur kesal, sambil berpikir apa maksud dari percakapan ini. Namun sadarkah Anda bahwa seringkali tanpa disadari Anda melakukan apa yang dilakukan wanita Yahudi itu. Memang percakapan seperti di atas bukanlah dosa, tetapi melakukan percakapan-percakapan sia-sia – yang tidak memuliakan Tuhan adalah sama seperti orang bodoh dan bebal, yang tidak mengerti kehendak Tuhan. Rasul Paulus mengingatkan kita untuk hidup secara arif (Efe. 5:15) – arif dalam berbuat, berpikir, dan juga berkata-kata.
Supaya Anda menjadi arif dan bijaksana dalam hidup ini, Anda harus berprinsip bahwa“… segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita”(Kol. 3:17). Jika setiap perkataan / percakapan yang Anda lakukan bertujuan untuk memuliakan nama Tuhan serta di dalam nama Yesus, maka Anda pasti terhindar dari percakapan yang sia-sia.[rhb]

 

Perkataan yang sia-sia adalah sampah bibir.

Comments are closed.