1

Pernikahan Kristen (Bagian 2 – Habis)

MEREKA AKAN MENJADI SATU
“Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.” (Kej. 2:24-25).

Ayat-ayat ini menekankan adanya ciri-ciri yang lengkap dari dua pribadi dalam suatu pernikahan. “Meninggalkan dan keterpisahan” dengan “ikatan yang lama” adalah penting dalam pernikahan.

Dalam istilah ‘meninggalkan,’ ada aspek sosial dan hukum dari suatu pernikahan. Tapi, yang lebih penting, ada tindakan ‘meninggalkan’ secara emosi dan secara mental.

“Ikatan yang lama” dengan orang tua, saudara, dan teman ‘tidak diabaikan,’ namun setelah pernikahan, janji dan posisi kejiwaan dari seseorang berubah dan ditujukan kepada ikatannya yang baru.

Terjemahan yang tepat dari bahasa Ibrani untuk “memisahkan” (dalam bahasa Inggris = cleave) adalah menempel pada yang lain, atau terikat pada seorang yang lain.

Pernikahan tidak boleh diartikan hanya sekedar selembar kertas yang ditandatangani oleh pendeta atau petugas yang berwenang. Ini lebih dari sekedar dua orang yang hidup di bawah satu atap atau tidur di atas tempat tidur yang sama.

Pernikahan harus berarti suatu perpaduan dari dua kepribadian yang menjadi satu. Dan juga harus terikat dalam sebuah janji antara satu dengan yang lain, suatu pengungkapan perasaan yang saling menguntungkan dari dua emosi yang sudah ditetapkan oleh Allah. Tujuannya adalah kesatuan, keintiman, dan adanya saling berbagi isi hati, perasaan, dan rahasia pribadi antara satu dengan yang lain tanpa adanya halangan.

Persatuan dari dua jenis kelamin yang berbeda dan menjadi satu daging semakin memperkuat cinta kasih dan membuatnya bertumbuh. Persatuan itu juga mendorong cinta menjadi suatu kesetiaan dan membuatnya bertahan lama. Tindakan dari mengasihi adalah bukan hanya menerima, tapi juga memberikan rasa aman dalam pernikahan.

Hubungan satu pria dan satu wanita yang sudah menjadi “satu daging” adalah merupakan suatu kesatuan manusia yang seimbang. Segala bentuk persatuan poligami, pernikahan dengan lebih dari satu pasangan, atau homoseksual tidak bisa menjadi satu daging seperti yang diciptakan Tuhan.
“……… baiklah setiap laki-laki memunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan memunyai suaminya sendiri.” (1 Kor. 7:2)

 

Konseling Pra Nikah

Sebagian besar pasangan pra nikah, secara Kekristenan belum siap untuk menjalani kehidupan dalam pernikahan. Mereka memang telah memutuskan untuk menjalani hidup bersama dalam pernikahan karena saling mencintai.

Tetapi sebagian dari mereka melakukannya  hanya karena merasakan ‘cinta’ dan sekedar melakukan sesuatu yang alami. Mereka menganggap cinta adalah hal yang sederhana untuk dimengerti dan mudah untuk dilakukan. Kebanyakan tidak ada yang belajar bagaimana membangun cinta dan keluarga, sehingga lebih lagi mereka pun pasti tidak memahami tentang dasar-dasar dan tujuan pernikahan yang benar.

Konseling pra nikah merupakan konseling khusus yang dilakukan bagi pasangan yang akan menikah (pra nikah). Secara luas pengertian konseling itu sendiri merupakan hubungan timbal balik antara dua individu, yaitu “konselor” yang berusaha menolong (membimbing) dan “konseli” yang membutuhkan pengertian untuk mengatasi persoalan yang dihadapinya. Jenis pelayanan ini sering disebut sebagai “pastoral konseling” karena dilakukan dalam sistem gereja oleh para pendeta/penatua.

Konseling pra nikah merupakan hubungan timbal balik atau dialog antara konselor dengan pasangan pra nikah agar mereka dapat mengenal dan mengerti dasar-dasar, tujuan dan persoalan-persoalan hidupnya yang berkaitan dengan pernikahan. Terutama  dalam relasi dan tanggung jawab pernikahannya kepada Tuhan.

Untuk selanjutnya diharapkan dapat mencapai  tujuan hidup dalam pernikahan tersebut dengan takaran, kekuatan dan kemampuan yang diberikan Tuhan kepadanya, berdasarkan kebenaran firman Tuhan.

Tujuan konseling adalah membantu pasangan pra nikah untuk mencapai tujuan hidupnya dalam hubungan dan tanggung jawabnya kepada Tuhan.

Tujuan tersebut  juga menyangkut hubungan dan tanggung jawab masing-masing individu terhadap pasangannya sendiri. Maupun hubungan dan tanggung jawab mereka kepada masyarakat, orang tua, saudara-saudara mereka, teman-teman mereka dan jemaat.

Dengan mengerti tujuan dari konseling, maka pasangan pra nikah diharapkan mampu untuk membina dan membangun sebuah keluarga Kristen yang kuat sesuai dengan kehendak Tuhan.
Dengan demikian mereka menjadi teladan bagi keluarga-keluarga lain, dan menjadi terang di tengah-tengah keluarga-keluarga non Kristen.

Dan jika suatu saat diberikan keturunan, maka bisa  melahirkan anak-anak yang takut akan Tuhan dan menjadi sebuah keluarga yang mengasihi Tuhan dan sesamanya. Sehingga dari keluarga yang kuat ini pun akan dilahirkan keluarga baru yang kuat pada generasi berikutnya.[berbagai sumber/wic]

Comment(1)

  1. oi sia says

    Bisa minta tolong agar kami dibantu untuk boleh ikut bimbingan pra nikah ya di gbi. tk

Post a comment