No comments yet

Prajurit Romantis

“Biarlah pujian pengagungan Allah ada dalam kerongkongan mereka, dan pedang bermata dua di tangan mereka” (Mazmur 149:6).

“Kita diserang musssuuuuuhhhhh…….!!!!” Terdengar teriakan kuat di tengah keheningan malam. Para prajurit yang sedang melayang-layang di alam mimpi tersentak bangun dengan gelagapan. Tanpa menghiraukan mata yang masih berat, semua prajurit bergegas menyambar pakaian perang, mengenakan sepatu, dan tidak lupa mengambil pedang. Ya, semua prajurit bergegas-gegas, termasuk seorang prajurit romantis (teman-temannya menjuluki demikian, karena ia sedang kasmaran dengan gadis kampung setempat yang baru 3 hari lalu dikenalnya).
Prajurit romantis ini baru tadi siang menerima surat dari kekasihnya. Setidak-tidaknya ia telah membaca surat itu 50 kali. Tahukah Anda apa yang ia sambar pertama kali ketika terdengar peringatan akan datangnya musuh? Surat! Setelah itu ia bergegas mengenakan pakaian perangnya, sepatunya, dan semua perlengkapan lainnya, kecuali pedangnya!

Prajurit romantis ini berlari dengan sekuat tenaga mengikuti teman-temannya. Dengan semangat membara ia bertekad untuk memecahkan rekor dalam hal memenggal kepala musuh sebanyak-banyaknya, supaya ada bahan untuk disombongkan di hadapan gadis pujaannya. Sambil memekikkan semangat keprajuritan ia merogoh ke samping pinggangnya, kosong….! Kemana pedangku? Semangat yang membara itu tiba-tiba berubah menjadi kepanikan. Sambil celingukan ia mencari teman yang mau meminjamkan pedangnya? Tapi mana mungkin? Mereka kan bawa pedang cuma satu? Mau berteriak minta tolong, malu dengan musuhnya. Mau ngumpet, keadaan tidak memungkinkan karena ia berada di tengah-tengah hiruk-pikuk orang yang sedang berperang. Tolong….!!! Akhirnya tanpa sadar ia berteriak dengan keras (belum pernah ia berteriak sekeras itu sebelumnya). Tapi apa daya, tak seorang pun dari kawan-kawannya yang mendengarnya. Seluruh ilmu bela diri yang dimiliki sepertinya tidak ada artinya, karena lawan yang dihadapi menggenggam senjata. Tiba-tiba ia merasa perutnya pedih karena pedang lawan menusuknya. Ia tewas di medan perang dengan masih menggenggam surat cinta!
Setelah membaca sekelumit kisah ini, hanya ada satu kesimpulan dalam pikiran kita: tolol! Sebagai seorang prajurit tidak seharusnya ia melupakan senjatanya yang vital: pedang.

Alkitab memberitahu kita bahwa senjata ofensif (menyerang) adalah pedang. Pedang kita adalah firman Tuhan, “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada PEDANG BERMATA DUA…….” (Ibr. 4:12). Jadi kalau Anda tidak dipenuhi dengan firman Allah, berarti Anda tidak menyandang senjata dan berarti lagi Anda….toyol (maaf), seperti prajurit bodoh di atas!

Dalam sebuah pertempuran, kelalaian menyandang pedang berarti maut!

 

Post a comment