Comments are off for this post

RASA TANGGUNG JAWAB

“Dan Yusufpun mengambil mayat itu, mengapaninya dengan kain lenan yang putih bersih” (Matius 27:59).

“Usia 102 Tahun, Nekat Jadi Calon Wali Kota” – demikian berita pada salah satu koran pada tanggal 10 Agustus 2000. Nathalie Van Loock adalah nama nenek itu. Meskipun  sudah 102 tahun, tetapi ia berani  mencalonkan diri menjadi walikota mewakili Partai Gembel untuk pemilihan wali kota Keerbergen, kota kecil berjarak 40 km arah timur laut dari ibu kota Brussels, Belgia. Meski anak dan cucunya melarang, namun nenek tua ini tetap nekat mencalonkan diri sambil berkata: “Saya bangga bisa terpilih sebagai salah satu calon. Saya siap berjuang keras agar kehidupan warga di sini jauh lebih baik.” Meskipun tidak lama lagi masuk ke liang lahat, namun ia mempunyai tanggung jawab bagi kesejahteraan warga kota itu.

Contoh tokoh Alkitab  yang mempunyai rasa tanggung jawab dan solidaritas yang tinggi adalah Yusuf.  Yusuf orang Arimatea bukan termasuk salah seorang dari 12 murid Yesus itu. Ia hanyalah salah seorang dari sekian banyak murid yang percaya kepada Yesus. Tetapi dia merasa bertanggung jawab terhadap mayat Yesus yang masih tergantung di kayu salib, lalu ia pergi menghadap Pilatus untuk meminta mayat Yesus dan menguburkannya.
Saudara, bagaimana dengan Anda? Apakah Anda ikut merasa bertanggung jawab terhadap hal-hal yang secara umum kelihatannya bukanlah tanggung jawab Anda? Atau Anda berkata: “Penginjilan itu bukan tugas saya, tapi tugas pendeta. Mengunjungi orang sakit itu bukan tugas saya, tapi tugas hamba-hamba Tuhan. Mendoakan orang kerasukan setan itu bukan tugas saya tapi tugas para penginjil.” Saudara, kita harus meneladani kehidupan Yusuf dari Arimatea. Walaupun ada orang-orang yang lebih pantas bertanggung jawab terhadap mayat Tuhan Yesus yang tergantung di kayu salib, tetapi ia merasa terpanggil untuk bertanggung jawab.

Tanggung jawab Yusuf ini tidaklah setengah-tengah. Yusuf tidak sekedar menurunkan mayat Yesus lalu menguburkannya begitu saja, tetapi ia mengapaninya dengan kain lenan yang putih bersih, lalu membaringkannya didalam kuburnya yang baru, yang digalinya di bukit batu, dan mengulingkan sebuah batu besar ke pintu kubur itu.

Banyak orang membuka pelayanan di mana-mana, tetapi jarang ada yang menyelesaikan sampai tuntas. Sebab, begitu ada tantangan, mereka mundur dengan berbagai alasan. Tuhan tidak menginginkan kita mengerjakan sesuatu hanya setengah hati.  Untuk melakukan tugas sampai tuntas, kita harus punyai hati yang teguh – seperti pesan Musa kepada Yosua (Yosua 1:7).[rhb]

Jadilah warga Kerajaan Allah yang bertanggung jawab.

Comments are closed.