No comments yet

Ratu Dari Selatan

“Ketika ratu negeri Syeba mendengar kabar tentang Salomo datanglah ia ke Yerusalem hendak menguji Salomo….” (2 Tawarikh 9:1).

HIKMAT  dan kemuliaan raja Salomo menarik perhatian ratu negeri Syeba. Iapun berangkat menemui Salomo dengan diiringi rombongan besar dan berbagai hadiah yang akan dipersembahkan kepada Salomo. Hadiah-hadiah tersebut berupa emas – dengan berat 120 talenta (± 4 ton) – batu-batu permata dan rempah-rempah yang nilainya ditaksir sama dengan emas yang dibawa. Bayangkan, bila harga emas Rp. 120.000/gr, maka nilai emas total Rp. 480.000.000.000. Jadi keseluruhan persembahannya ± Rp. 1 trilyun (baca RB edisi Agustus 98 tanggal 31 tentang persembahan apa saja yang dapat kita berikan kepada Allah).

Yesus pernah menyinggung ratu negeri Syeba dengan menyebutnya ratu dari Selatan. Yesus menyebut nama ini untuk menyinggung ahli Taurat dan orang Farisi, sebab mereka meminta tanda kalau benar Yesus itu Mesias (Mat. 12:38-42). Sebab bagi mereka, “penampilan” Yesus kurang meyakinkan sebagai Mesias dan Raja yang akan memerintah selama-lamanya. Mungkin selama ini gambaran seorang raja bagi mereka adalah orang yang lahir di istana mewah, mempunyai banyak pengawal, dan kalau perlu selalu diiringi dayang-dayang yang siap melayani-Nya. Meskipun Yesus sudah mengatakan: “…yang ada di sini lebih dari pada Salomo” (Mat. 12:42), tetaplah hati mereka yang bebal tidak mempercayai-Nya. Seandainya saja kepintaran mereka tentang hukum Taurat tidak sampai keblinger, mereka akan membuka hati untuk menerima-Nya. Atau seandainya mereka diberi kesempatan hidup pada zaman sekarang dan sempat nonton film seri TV “Mission Impossible” (Misi Mustahil) dan melihat berbagai bentuk penyamaran – mereka akan membandingkannya dengan Yesus – Raja segala raja yang menanggalkan ke-Illahian-Nya dan “menyamar” menjadi manusia untuk mengerjakan “Mission Possible” (Misi Tidak Mustahil) yang diemban-Nya dari Allah Bapa, maka hati mereka akan terbuka dan menerima-Nya. Sayang, andai-andai di atas tidak pernah terjadi dan mereka tetap dalam ketidakpercayaan mereka.

Inilah maksud Allah sebenarnya. Dengan kebebalan bangsa Israel, Allah mengalihkan tawaran-Nya kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi. Allah tidak memerlukan orang-orang yang sok pintar, sok tahu, sok bijaksana, sok berhikmat, dan segala macam sok lainnya. Allah menanti orang-orang yang rendah hati yang mau menerima kebenaran-Nya.

Perumpamaan tentang perjamuan (Mat. 22:1-14), menggambarkan kasih karunia Allah kepada bangsa-bangsa non Israel. Diceritakan bahwa perjamuan itu diadakan oleh seorang raja (gambaran tentang Allah). Tetapi para undangan (bangsa Israel) tidak menanggapi undangan itu. Akibatnya raja itu menyuruh hamba-hambanya untuk memanggil orang yang dijumpai di jalan-jalan, orang-orang miskin, cacat, buta, dan lumpuh (bangsa-bangsa non Israel) untuk menikmati perjamuan pestanya.[rhb]

 

Kebebalan bangsa Israel diibaratkan dengan orang yang mencari batu kali di atas gunung berlian.

 

Post a comment