Comments are off for this post

Responi PenyertaanNya

“Maka berdirilah ia dan memberkati segenap jemaah Israel dengan suara nyaring, katanya:”Terpujilah TUHAN yang memberikan tempat perhentian kepada  umat-Nya Israel tepat seperti yang difirmankan-Nya; dari segala yang baik, yang telah dijanjikan-Nya dengan perantaraan Musa,  hamba-Nya, tidak ada satupun yang tidak dipenuhi” (1 Raja-Raja 8:55, 56).

Pada mulanya Allah itu karib dengan manusia. Tetapi dosa memisahkannya. Namun terpujilah Tuhan,  karena kasihNya, Ia menebus manusia dari dosa. Dengan jalan itu ada perdamaian antara Allah dan manusia. Lalu berikutnya, Imannuel, Tuhan menyertai kita.
PenyertaanNya  sangat sempurna. Namun seringkali kita kurang peka dan respon terhadap penyertaan Allah. Banyak yang berdoa memohon penyertaanNya, namun di sisi lain kurang bisa menghargai penyertaan Allah. Kapan hal itu terjadi? Ketika kita tidak mau mengampuni dan memandang rendah orang lain. Ketika kita mulai berbohong dan menyebarkan fitnah, dan tak menjaga kekudusan. Saat seseorang bersikap seperti itu,  sesungguhnya  tidak menghargai penyertaanNya.

Lalu, bagaimana sikap kita terhadap penyertaan Tuhan? Ada lima hal yang harus kita lakukan: Pertama,  Condongkan hati secara terus menerus kepada Allah (1 Raj.8: 58), supaya kita bisa  mengikuti segala jalan Tuhan, perintah-Nya, ketetapan dan peraturan-Nya.  Kedua, Berpaut dan berharaplah kepada Tuhan sebagai satu-satunya pengharapan dan jaminan hidup kita (ayat 61). Ketiga, berikan persembahan yang terbaik di dalam hidup kita, bukan hanya harta tetapi juga tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada-Nya (1Raj 8: 62, Rm 12:1). Keempat, Hidup dalam kekudusan, sebagaimana firman-Nya: Kuduslah kamu sebab Aku kudus (1Raj 8: 64, 1 Pet 1:16). Kelima, selalu bersyukur kepada Tuhan (1 Raj 8: 65), seperti yang dikatakan 1Tes. 5:18: “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang  dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” [rhb]

Meresponi dan Menghargai penyertaan Tuhan sama dengan menjaga hidup kita.

Comments are closed.