Comments are off for this post

RISIKO ORANG BENAR

“Maka orang itu semua menyerbu Sostenes, kepala rumah ibadat, lalu memukulinya di depan pengadilan itu; tetapi Galio sama sekali tidak menghiraukan hal itu” (Kisah 18:17).

Kalau kita membaca dengan teliti sepak terjang Paulus dalam penginjilan, maka dapat dilihat bahwa target utama Paulus adalah tempat-tempat ibadah orang Yahudi (Sinagoga). Memang ironis. Mereka percaya akan datangnya Juru Selamat, tetapi mengingkari kedatangan Yesus sebagai Mesias. Itulah yang membuat Paulus bertekad untuk meyakinkan mereka akan kebenaran datangnya Yesus, Sang Mesias itu.

Selalu ada harga yang harus dibayar setiap kali kita melakukakan  penginjilan. Alkitab menulis ada seorang yang menjadi korban penganiayaan karena InjilNya, yaitu  Sostenes, sang kepala rumah ibadat. Sebelum itu kita temukan di ayat 8 nama kepala rumah ibadat yang disebut Krispus. Ia dan seisi rumahnya percaya akan pemberitaan Paulus. Bahkan mereka dibaptiskan. Apa hubungan antara Sostenes dengan Krispus? Banyak komentator Alkitab meyakini bahwa dua orang ini sebenarnya sama. Lalu mengapa Lukas (penulis Kisah Para Rasul) menuliskan dua nama untuk satu orang? Ada dua kemungkinan: pertama, Lukas sengaja mengganti nama Krispus (artinya: curled/ikal) dengan Sostenes (artinya: safe in strength /selamat dalam kekuatan) untuk menyembunyikan identitas aslinya sebagai upaya untuk melindunginya dari aniaya; kedua, nama Sostenes diberikan sebagai identitas baru setelah ia dibaptiskan.

Saat menuliskan suratnya kepada jemaat di Korintus (kota tempat tinggal Sostenes), Paulus menuliskan salam dibarengi dengan nama Sostenes (1 Korintus 1:1). Dan di surat yang sama pula, Paulus menyebut nama Krispus sebagai orang yang telah dibaptiskan (1 Korintus 1:14). Dua nama tetapi menunjuk kepada orang yang sama.

Keputusan Sostenes memang membutuhkan keberanian ekstrim saat ia mengambil keputusan percaya kepada Yesus. Ia harus mendobrak segala aturan beku yang telah membelenggunya. Ia harus merelakan dirinya dicaci-maki dan dipecat sebagai kepada rumah ibadat. Dan yang paling menyakitkan adalah ia harus relah dipukuli dan dianiaya oleh karena nama Yesus. Itulah risiko orang yang mau sungguh-sungguh mempertahankan imannya. (hw/rhb)

Apapun yang terjadi, tetaplah jadi orang benar dihadapanNya.