No comments yet

Sari Simorangkir-Suaranya Berkumandang di Gereja dan Rumah Umat Kristiani

KESAKSIAN,BETHANY.OR.ID-Prestasinya  sebagai penyanyi-rohani itu diawali dari pemberian layanan sejak tahun 1992. Karena wanita itu, Sari Simorangkir, yang dikaruniai suara merdu dan serak-serak basah, menjadikannya langsung dimasukkan dalam kelompok Voice of Galilea dari Galilea Ministry, Jakarta.

Dari situlah dia bertemu dengan para anggota dari Voice of Generation, Jakarta. Meskipun anggotanya berasal dari berbagai Gereja lokal, namun pergaulan mereka cepat menjadi akrab.
“Semua teman-teman saya menggunakan sepenuh waktunya dalam melayani Tuhan.” alasan Sari untuk bergabung dan akrab itu.

Melalui pertemuan-pertemuan semacam itulah yang mendorong hasrat mereka untuk secara  melayani secara bersama dengan membentuk grup yang dinamai  “True Worshipper.”

Sebenarnya. Sari menjalani karier berdasarkan talenta itu bukan hanya karena ingin dan berkemampuan untuk menyanyi. Akan tetapi lebih didorong oleh jiwanya. Yakni hubungannya dengan Tuhan.

“Kedengarannya seperti ungkapan klise, namun sebenanrya suatu kenyataan. Penyembahan bukan sekedar tentang menyanyi. Hal itu adalah kehidupan kita sehari-hari yang mengagungkan Tuhan.” katanya.
Sampai sekarang ini saya sudah mengeluarkan 5 album solo. Album musiknya yang keempat dirilis bulan Maret lalu diberinya judul “31:31”. Untuk itu, dibutuhkan waktu 5 bulan.

Mengapa prosesnya begitu lama?
“Saya merasa gembira untuk mempersiapkan segala sesuatu guna memproduksi album tersebut memerlukan yang waktu lama. Persiapan dan screening merupakan hal yang pelik. Saya perlukan waktu itu untuk hasil yang baik. Dan kenyataannya terpenuhi karena hasilnya memuaskan.” Begitu penjelasannya.

Ternyata, wanita dari keluarga suku Batak yang dilahirkan di Semarang pada 31 Maret 1975 itu, menciptakan sendiri hampir semua lagu-lagu  yang dinyanyikannya.  Memang sebagian isi albumnya adalah lagu-lagu ciptaan teman-teman sepelayanan.

Perjalanan kariernya untuk memberikan layanan memang tak selalu mulus. Suka-duka juga mewarnai perjalanan layanannya. Namun katanya,  yang dirasakannya jauh lebih banyak suka daripada dukanya.

 

Pengaruh Musik Pop.

Menurutnya, tantangan terbesar yang harus dihadapinya adalah bagaimana menjadi lagu-lagu Kristiani menjadi lagu-lagu populer (pop music). Sebab itu, dari hari ke hari musik layanannya juga harus mengikuti perkembangan selera musik pop. Perkiraan banyak pemeduli musik-musik Kristiani, bahwa Sari terpengaruh oleh gaya suara penyanyi-penyanyi Gospel kelas dunia seperti Michael W. Smith, Crystal Lewis, Yolanda Adams, Hillsong serta penyanyi sekuler seperti Whitney Houston, Mariah Carey, Lydia Imaniar dan Sting. Malahan dia mengakui mengagumi gaya dan nada musik RnB, soul dan blues.

“Beberapa tahun lalu, banyak jenis musik yang saya tekuni. Dengan perkembangan musik yang terjadi kini, menjadikan saya harus banyak belajar.” ujarnya.

Namun, dari pengalamannya ketika dia mengikuti perkembangan musik pop,  malah berbuah “gunjingan”. Sebab, musik yang dibawakan grupnya saat itu beraliran RnB (Rock and Blues). Malahan ada seseorang  mengomentari: “macam musik apa itu ? Koq nggak bisa dinikmati”. Bahkan ada pula yang mengatakan, bahwa musik grupnya itu berasal dari ‘aliran sesat’.

“Pendapat-pendapat demikian tidak membuat kami patah semangat. Justru kami dituntut untuk berbuat lebih baik.” katanya tersenyum.

Menurutnya, apa yang dilakukan sebagai visi dan misinya adalah guna menyentuh kehidupan manusia sebanyak mungkin melalui musik dan kehidupan pribadinya. Sebab itulah, dia secara serius menyanyi dan selalu memperhatikan perkembangan musik dan apa pendapat umat Kristiani.

“Hal itu bukan sekedar demi karir saya, akan tetapi itulah jalan bagi saya untuk menyatakan diri dan memberi berkat masyarakat”. Demikian pendapatnya.

Kesulitan yang dialaminya sebagai sisi “duka” dalam pelayanan masa kini, ialah masalah waktu. Tidak jarang terjadi perbedaan dalam pelaksanaan acara di  sekuler dengan di Gereja. Kadangkala waktu yang ditetapkan di Gereja menjadi  molor dan menjadikan waktunya terlambat, sehingga mereka harus menunggu Pada hal, menunggu seperti itu merupakan sesuatu yang tidak enak. Beda dengan di sekuler, yang katanya  selalu tepat waktu dalam mengadakan acara.

Ketika masih gadis, Sari Simorangkir mengalami kehidupan di beberapa kota besar karena ikut dengan keluarganya. Ayahnya karyawan staf Pertamina, sehingga berpindah-pindah tempat tinggal, antara lain di Semarang, Makassar dan lain-lain. Terakhir hingga dia berkeluarga, tinggal di Jakarta. (sumber:tabloid bethany.164/js/as/sgbi).

Post a comment