No comments yet

Sukacita dibalik Duka

….. Anak Manusia akan diserahkan ke  dalam tangan manusia  dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan  dibangkitkan.” Maka hati murid-murid-Nya itupun sedih sekali” (Matius 17:22-23).

Pada saat seseorang menerima berita dukacita atau ditimpa malapetaka, mereka pasti dilanda perasaan sedih yang amat sangat. Apalagi kalau berita duka itu menimpa keluarga atau orang-orang yang kita kasihi. Seperti halnya para murid Yesus, mereka menjadi sedih ketika mendengar bahwa Yesus akan dibunuh. Kesedihan atau dukacita itu wajar terjadi dalam hidup manusia, tetapi jika mereka terus-menerus larut dalam kesedihan maka akibatnya bisa fatal. Pada waktu itu murid-murid Yesus mungkin kurang jelas mendengar perkataan Yesus, atau lebih tepat  bisa dikatakan bahwa mereka hanya mendengar sebagian perkataan Yesus. Mereka hanya mendengar dan mencerna perkataan, “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia…” Hanya perkataan itu saja, dan mereka mengabaikan kalimat yang terakhir, “…dan pada hari yang ke tiga Ia akan dibangkitkan.”

Pengertian yang sepenggal-penggal tentang firman Allah menyebabkan murid-murid Yesus sungguh-sungguh larut dalam dukacita yang berkepanjangan ketika menemukan fakta bahwa Yesus memang sungguh-sungguh mati disalibkan. Dukacita yang berkepanjangan itu kemudian berubah menjadi  putus asa, dan akhirnya murid-murid Yesus meninggalkan panggilan Tuhan. Petrus dan kawan-kawannya yang dipanggil Yesus menjadi penjala jiwa akhirnya memutuskan untuk banting stir – kembali menjadi penjala ikan (Yoh. 21).  Beruntung sekali, pada hari ketiga Yesus bangkit dari antara orang mati. Ia menemui mereka, memberikan pengharapan yang baru dan menarik mereka untuk kembali kepada panggilanNya yang semula. Berita kematian-Nya memang mendatangkan dukacita bagi yang mendengar, tetapi dibalik itu semua ada berita tentang kebangkitan-Nya yang mendatangkan sukacita.
Orang-orang percaya yang kurang mengenal Allah seringkali melihat suatu permasalahan hanya dari satu sisi saja.  Ketika ada berita dukacita dan timbul berbagai-bagai tantangan, maka mereka menjadi sedih dan putus asa. Mereka lupa bahwa Allah turut bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi Dia (Rm. 8:28). Bertolak dari kebenaran ini, apabila kita sungguh-sungguh mencintai Dia seharusnya kita tidak akan pernah berputus asa. Dibalik berita dukacita yang paling dalam sekalipun, pasti ada sukacita yang ada dibalik peristiwa itu. Hal ini bisa terjadi karena Allah yang kita sembah di dalam nama Yesus Kristus, turut bekerja di dalamnya, yang selalu merencanakan yang baik untuk kita. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana kita mengasihi Dia, hidup selalu berkenan kepada-Nya. Apabila ada dosa dan kesalahan yang terlanjur kita lakukan, biarlah secepatnya kita  memohon pengampunan dan kembali mencari wajah-Nya. Dia akan memperhatikan dan memulihkan kita, sehingga sukacita ilahi akan mewarnai kehidupan kita. [rhb/sgbi]

Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai.

Comments are closed.