No comments yet

Upah Penyesat?

Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut.”(Mat. 18:6).

Tuhan Yesus berkata, “Lebih baik baginya dilemparkan dan ditenggelamkan ke laut.” Tentunya hukuman ini sudah mengerikan. Tetapi ternyata Tuhan Yesus menyatakannya dengan lebih mendetail, “Lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut.”

Kilangan yang dimaksud di sini adalah alat penggiling yang terbuat dari dua buah batu yang cukup besar dan berat. Dua batu itu diletakkan bertumpuk d ibagian bawah dan atas, disatukan dengan sebuah as di tengahnya. Pada saat  digunakan biasanya diperlukan dua orang untuk memutarnya. Begitu seriusnya Tuhan memperingatkan murid-murid-Nya agar tidak menjadi penyesat bagi anak-anak kecil, sampai-sampai Dia menyatakan bahwa lebih baik orang itu lehernya diikat dengan sebuah batu kilangan dan ditenggelamkan ke laut? Apabila seseorang hanya dilempar ke dalam laut, ada kemungkinan mayatnya terlempar kembali ke darat dan masih bisa ditemukan. Tetapi jika lehernya sudah terlebih dahulu digantungi batu kilangan, tentunya orang itu akan langsung tenggelam ke dasar lautan dan tidak mungkin mayatnya kembali ke daratan lagi karena beban batu kilangan yang cukup berat itu.

Secara harfiah, “anak-anak kecil” bisa diartikan sebagai anak-anak yang belum dewasa atau anak-anak yang masih  “bocah”. Namun di dalam arti yang lain,  bisa juga mengandung makna sebagai anak-anak kecil secara rohani yang masih polos. Siapa saja yang merusak kerohanian mereka, murka Tuhan Allah akan bangkit. Ini adalah peringatan untuk kita semua, baik para pendeta, pengajar, para pelayan Tuhan, guru-guru Sekolah Minggu, dan khususnya para orang tua.  Tuhan Yesus mengingatkan bahwa orang yang ikut berperan di dalam menyesatkan orang lain, khususnya anak-anak akan menerima hukuman yang sangat berat.

Cara menyesatkan orang lain ini bisa dilakukan secara langsung dengan pengajaran yang salah atau sesat, bisa juga secara tidak langsung yaitu dengan cara menempatkan “hal-hal yang menyebabkan orang berbuat dosa” di depan orang lain. Cara-cara yang tidak langsung ini misalnya: membangun  tempat-tempat hiburan duniawi yang penuh kenajisan, bacaan porno, narkotika, teladan yang jahat, menularkan atau menanamkan akar yang pahit dan lain-lain. Orang yang saleh tidak akan melakukan yang demikian. Sebaliknya, mereka akan berusaha untuk membuang sesuatu yang dapat menjadi godaan yang menyebabkan orang berbuat dosa, dari dalam kehidupan pribadi, rumah tangga, gereja dan masyarakat.[rhb/sgbi]

Memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya.

Post a comment