Seni Membangun Penyembahan dalam Keluarga

Friday, 13 Jan 2017


family worship

BETHANY.OR.ID-“Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau, karena hukum-hukum-Mu yang adil. Besarlah ketenteraman pada orang-orang yang mencintai Taurat-Mu, tidak ada batu sandungan bagi mereka. Aku menantikan keselamatan dari pada-Mu, ya TUHAN, dan aku melakukan perintah-perintah-Mu. Aku berpegang pada peringatan-peringatan-Mu, dan aku amat mencintainya.”  (Mazmur  119:164-167)

Sejak diurapi menjadi raja, tak sedikit tantangan yang dihadapi Daud. Goliat sang raksasa Filistin merupakan awal tantangan besar baginya. Setelah itu secara bertubi-tubi muncul tantangan lain yang  lebih besar daripada itu. Termasuk saat dia dianggap memberontak oleh Saul,  hingga suatu ketika anaknya sendiri memberontak terhadapnya.

Sebagai Raja dia tak enak- enakan berada di zona nyaman. Banyak hal dikerjakannya dalam rangka mengerjakan visi yang dipercayakan Alah kepadanya. Daud bukanlah sosok  pemimpin yang berambisi pada kedudukan, sebaliknya ia begitu rendah hati. Posisi yang didudukinya tentu saja diintip banyak kalangan.   Tetapi Daud  sadar, kesemuanya itu adalah anugerah Tuhan.  Menjadi Raja, bukannya sekedar ongkang-ongkang kaki, menerima pajak rakyat dan menikmatinya. Disadarinya tugasnya cukup berat.

Dia harus menjaga dan memelihara rakyatnya agar mereka tetap melakukan ketetapan Tuhan. Berkali-kali, dia mengingatkan dan menegur rakyat yang melanggar perintah Tuhan. Namun demikian disaat yang  sama masih muncul hinaan dan kritikan terhadap pemerintahan yang dijalankannya, iya tak ubahnya seperti pada masa kini. Dalam Mazmurnya dikatakannya, “Engkau menghardik orang-orang yang kurang ajar, terkutuklah orang yang menyimpang dari perintah-perintah-Mu. Gulingkanlah dari atasku cela dan penghinaan, sebab aku memegang peringatan-peringatan-Mu. Sekalipun pemuka-pemuka duduk bersepakat melawan aku, hamba-Mu ini merenungkan ketetapan-ketetapan-Mu” (Mazmur 119:21-23).

Saat menjalankan pemerintahannya, banyak juga musuhnya,  hingga karenanya Daud menderita dan berseru kepada Tuhan, “Lihatlah sengsaraku dan luputkanlah aku, sebab Taurat-Mu tidak kulupakan. Perjuangkanlah perkaraku dan tebuslah aku, hidupkanlah aku sesuai dengan janji-Mu. Keselamatan menjauh dari orang-orang fasik, sebab ketetapan-ketetapan-Mu tidaklah mereka cari. Rahmat-Mu berlimpah, ya TUHAN, hidupkanlah aku sesuai dengan hukum-hukum-Mu. Pengejar dan lawanku banyak, tetapi aku tidak menyimpang dari peringatan-peringatan-Mu” (Mazmur 119:153-157).

Lalu apa yang membuat Daud tetap bertahan dalam menghadapi kesemuanya itu? “Doa dan penyembahan” itulah yang melekat pada hidup Daud. Ia seorang raja yang sangat sibuk dengan berbagai persoalan dan tantangan. Musuhnya bukan hanya orang sebangsanya, melainkan juga kerajaan yang ada disekelilingnya.
Namun dalam kesemuanya itu, ia menyediakan waktu khusus bertemu Tuhan. Dalam pengakuannya dia berkata, “Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau,……”

Sepertinya inilah yang menjadi kekuatan Daud. Ia ebnar-benar hidup di dalam doa dan penyembahan. Ia yakin persoalan yang begitu berat bisa diselesaikannya, jika ia membangun hubungan dengan Tuhan dalam doa dan penyembahan.
Demikian halnya dengan kita, sediakan waktu khusus untuk kita hidup dalam doa dan penyembahan , sebab disitulah kita mendapatkan kekuatan baru untuk menghadapi setiap persoalan dan tantangan hidup di akhir zaman ini.

Hadapi Persoalan dengan Doa dan Penyembahan
Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya (Daniel  6:11)[wic/sgbi]

651 Total Views 2 Views Today