Comments are off for this post

DIBENTUK MELALUI KELUARGA

Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi. Dan ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem berkata: “Ia kerasukan Beelzebul,” dan: “Dengan penghulu setan Ia mengusir setan.” (Markus 3:21-22)

Apabila kita membaca Injil dalam Markus 3:20-30, maka disitu  bisa diketahui,  bahwa  hidup  Yesus tak lepas dari  keluarga. Ia begitu giat merenungkan Taurat Tuhan. Itu   karena Ia dididik sejak dini, diperkenalkan sejak dini. Semua adik-adik-Nya melihat, bahwa Yesus sang kakak telah melakukan tuntutan hukum taurat dengan sempurna.  Namun disisi lain, Ia sempat dapat semacam ‘sindiran’ dari saudaranya seakan Ia tidak lagi waras. Namun demikian pada akhirnya mereka mengerti maksud Yesus.

Poin penting yang perlu kita pahami saat ini adalah cara Allah membentuk kita melalui keluarga. Bagaimana hal itu kita pahami?

  1. Allah Menuntut kita untuk mengasihi Tuhan lebih dari keluarga (Matius 10:37).

Tuhan mengasihi kita seakan-akan hanya kita yang ada dihadapanNya. Itulah sebabnya Ia menuntut kita untuk mengasihi Dia, yaitu seakan-akan hanya Dia yang kita punya. Memang tidak mudah mengasihi Allah yang tidak kelihatan jika  dibanding dengan mengasihi keluarga yang kelihatan. Padahal kalau seseorang mencintai Tuhan lebih dalam lagi, dia akan mencintai keluarganya semakin dalam, semakin luas dan semakin tulus. Hal ini bisa terjadi karena dia telah mengasihi Tuhan yang adalah sumber dari kasih.

  1. Allah menuntut kita untuk mengasihi keluarga.

Kita harus mengasihi keluarga dengan sungguh-sungguh namun tidak boleh mengasihi keluarga lebih dari mengasihi Tuhan. Lalu bagaimana seorang istri mengasihi keluarganya?  Ia harus memenuhi panggilan utamanya sebagai istri dari suaminya dan memenuhi panggilannya sebagai ibu bagi anak-anaknya. Selanjutnya bagaimana seorang suami mengasihi keluarganya? Ia harus mengasihi istri dan anak-anaknya. Dan yang terakhir adalah, bagaimana seorang anak mengasihi keluarganya? Ia harus menghormati orang tuanya.

  1. Allah menuntut kita untuk memikul salib (Lukas 14:27).

Hubungan suami istri adalah hubungan yang tertinggi dari semua hubungan yang ada. Itulah sebabnya salib terberat yang harus kita tanggung adalah keluarga. Berani membayar harga.

  1. Menuntut kita untuk mengasihi Tuhan lebih dari nyawa sendiri (Matius 10:39).Ini merupakan salib terberat kedua yaitu penyangkalan diri atau tidak lagi memikirkan kepentingannya sendiri. [dopus/19]

 

Comments are closed.