Comments are off for this post

TANGANI KRITIK

” Tetapi Tuhan mengambil aku dari pekerjaan menggiring kambing domba, dan Tuhan berfirman kepadaku, “Pergilah, bernubuatlah terhadap umat-Ku Israel” (Amos 7:15)

Saat  tumbuh dewasa, kadang-kadang kita menjadi terbiasa dengan cara sendiri, sehingga tidak mau mengaku saat berbuat salah. Ironisnya lagi,  tanpa sepengetahuan yang bersangkutan,  kita selalu mencela dan berusaha meremehkan pandangan-pandangan mereka.

Sebagai contoh, ada sebagian orang bila tidak sependapat dengan seorang pendeta, mereka tampaknya cepat sekali mengkritik pendeta itu dalam melakukan sesuatu. Mereka bahkan menganggap pendeta itu hanya mencari bayaran.

Kecaman semacam ini pernah dialami Amos kira-kira tahun 750 SM. Saat itu Nabi Amos menyampaikan peringatan yang keras mengenai penghakiman Allah atas Israel. Oleh karena itu, wajar bila pesannya tidak disukai. Seorang imam di Betel bernama Amazia merasa terganggu dan menyuruh Amos kembali ke Yehuda. Amazia menuduh Amos sebagai nabi bayaran, yang berkhotbah hanya untuk mencari nafkah (ayat 7:12). Amos menanggapi pernyataan itu dengan berkata bahwa ia bernubuat semata-mata karena Allah memintanya untuk berbicara (ayat 15).

Jika kita adalah pengkhotbah atau pemimpin, kita harus melayani Tuhan dengan setia seperti yang Amos lakukan, bahkan sekalipun tugas itu tidak menyenangkan, tidak disukai, atau ditolak oleh jemaat kita. Dan jika kita adalah bagian dari jemaat, kita harus memastikan bahwa saat mendengar sesuatu yang tidak kita setujui, kita berdiam diri dan merenungkan hal tersebut. Dan kita pergumulkan dihadapan Tuhan dan tanpa membenci atau atidak menyukai orang yagn berbeda pendapat dengan kita. (rhb)

Comments are closed.